ASPEK.ID, JAKARTA – BJ Habibie saat menjadi presiden berhasil menjinakkan nilai tukar AS terhadap rupiah. Saat krisis moneter 1998, Dolar AS pernah mencapai Rp 16.800 yang kemudian berhasil menjadi Rp 6.550 per dolar. Berikut 3 cara yang dilakukannya kala itu:
1. Restrukturisasi Perbankan
Saat Order Baru, bank didirikan dengan mudah karena kebijakan Paket Oktober 1998. Namun program itu tak dibarengi dengan kemampuan perbankan yang baik, pada akhirnya membuat banyak bank bertumbangan dan nasabah menarik dana besar-besaran.
Habibie melakukan restrukturisasi perbankan dan berharap Bank Indonesia makin kuat. Salah satunya mencabut aturan dan mempraktikannya langsung pada bank pemerintah.
Empat bank milik pemerintah juga digabung menjadi Bank mandiri. Diapun memisahkan BI dari pemerintah melalui UU Nomor 23 tahun 1999.
Habibie dalam otobiografinya, B.J. Habibie: Detik-detik yang Menentukan (2006) menyebutkan kebijakan saat itu menjadi langkah terbaik karena bisa menguatkan rupiah. BI pun dinilai harus independen, objektif dan bebas dari intervensi politik.
2. Kebijakan Moneter Ketat
Habibie menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan bunga tinggi. Tujuannya agar membuat bank-bank bisa kembali dipercaya masyarakat.
Dengan begitu, masyarakat akan kembali menabung dan menurunkan tingkat peredaran uang di masyarakat. Berkat SBI, suku bunga tercatat menurun dari 60% menjadi belasan persen, dan kepercayaan pada bank meningkat.
3. Pengendalian Harga Bahan Pokok
Karena menganggap kebutuhan bahan pokok hal yang vital, dia membuat harga listrik dan BBM subsidi agar tidak naik. Jadi harga bahan pokok pun tetap terjangkau. Demikian dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (6/10/2026).














