ASPEK.ID, JAKARTA – Gabungan kekayaan bersih dari tiga orang terkaya di Indonesia menyusut hingga 5,9 miliar dollar AS atau setara Rp 106,20 triliun per kurs hari ini, Rabu (21/10/2026).
Penurunan drastis ini terjadi menyusul rekor penurunan pasar saham selama dua hari berturut-turut yang dipicu oleh peringatan potensi penurunan status pasar (downgrade) oleh penyedia indeks global, MSCI.
Pekan lalu, MSCI menyatakan sedang mempertimbangkan untuk mengklasifikasikan ulang pasar saham Indonesia dari status pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Penurunan status yang lebih parah dari perkiraan ini berpotensi mendepak saham-saham asal Indonesia dari indeks-indeks utama global milik MSCI.
Peringatan tersebut langsung memicu aksi jual masif (selloff). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak turun hingga 11,6 persen pada Jumat dan melanjutkannya dengan penurunan 3,6 persen pada Senin. Dalam sesi perdagangan tersebut, IHSG bahkan menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir.
Menurut laporan Reuters, akumulasi penurunan selama dua hari tersebut menjadi yang terburuk dalam sejarah rekor pasar saham Indonesia, melampaui kerugian saat krisis keuangan Asia 1998.
Dampaknya Kekayaan tiga miliarder teratas menyusut Berdasarkan data real-time yang dipantau oleh Forbes hingga Senin, kekayaan bersih bos rokok Robert Budi Hartono merosot menjadi 12,4 miliar dollar AS (Rp 223,20 triliun) dari sebelumnya 15,5 miliar dollar AS (Rp 279,00 triliun)
Dua konglomerat lainnya juga mengalami penurunan kekayaan yang signifikan. Masing-masing adalah konglomerat kayu hingga energi Prajogo Pangestu yang kekayaannya tergerus 2,2 miliar dollar AS (Rp 39,60 triliun), serta miliarder batubara kelahiran Singapura Low Tuck Kwong yang menyusut 600 juta dollar AS (Rp 10,80 triliun).
Tahun ini menjadi periode berat bagi ketiga miliarder tersebut. Sepanjang tahun, pasar saham Indonesia telah merosot hampir 40 persen, menjadikannya pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia.
Sebagai perbandingan, pada akhir tahun 2025 lalu, kekayaan bersih Budi Hartono masih berada di angka 21,4 miliar dollar AS (Rp 385,20 triliun), Prajogo Pangestu mencatatkan 39,5 miliar dollar AS (Rp 711,00 triliun), dan Low Tuck Kwong sebesar 22,3 miliar dollar AS (Rp 401,40 triliun).
Dikutip dari VnExpress, Selasa (20/10/2026), pemerintah dan regulator telah berupaya mencegah potensi penurunan status sejak MSCI pertama kali mengeluarkan peringatan evaluasi pada Januari.
Saat itu, MSCI memaparkan kekhawatiran terkait aturan keterbukaan informasi pemegang saham yang dinilai dapat mengaburkan kepemilikan sebenarnya pada perusahaan tercatat, memperlemah transparansi pasar, serta meningkatkan risiko aktivitas perdagangan yang tidak wajar.
Banyak emiten terdaftar di Indonesia sahamnya dikuasai secara ketat oleh pendiri, keluarga, atau konglomerasi besar, sehingga porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publik (free float) sangat terbatas. Demikian dikutip dari Kompas.
















