ASPEK.ID, JAKARTA- Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian menyatakan minat pelaku usaha untuk menambah investasi di Indonesia terus melemah. Kondisi ini terutama terlihat pada kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang menghadapi tekanan biaya usaha sekaligus ketidakpastian kebijakan.
Survei Kadin Indonesia Institute mencatat hanya 32,4% pelaku usaha yang menyatakan siap berinvestasi dalam enam bulan ke depan pada kuartal III/2026. Angka tersebut turun dari 34,4% pada kuartal sebelumnya dan jauh di bawah posisi kuartal IV/2025 yang mencapai 47,1%.
Fakhrul Fulvian menilai penurunan tersebut menunjukkan semakin terbatasnya keinginan dunia usaha untuk melakukan ekspansi. Sebagian pengusaha cenderung menahan keputusan investasi sambil menunggu kepastian kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah.
“Proporsi [responden] tidak setuju turun dari 43,5% menjadi 40,0%, sedangkan biasa saja naik dari 22,1% menjadi 27,6% sehingga pelaku usaha yang menolak berinvestasi bergeser ke sikap wait and see, bukan ke rencana ekspansi,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Pergeseran sikap tersebut menjadi perhatian karena terjadi ketika realisasi investasi nasional masih mencatat pertumbuhan. Artinya, peningkatan investasi secara agregat belum tentu mencerminkan membaiknya keyakinan seluruh kelompok usaha, terutama pelaku usaha berskala kecil.
Berdasarkan skala usaha, kelompok mikro mencatat penurunan minat investasi paling tajam. Proporsi pelaku usaha mikro yang bersedia berinvestasi menyusut dari 36,1% menjadi 20%.
Sementara itu, kelompok usaha kecil dan menengah menghadapi tingkat penolakan investasi yang lebih tinggi, dengan proporsi mencapai 48,1%.
Temuan ini memperlihatkan bahwa tekanan investasi tidak tersebar secara merata. Pelaku usaha yang memiliki kapasitas lebih terbatas cenderung menghadapi tantangan lebih besar ketika harus memutuskan penambahan modal, pembelian peralatan, atau perluasan kapasitas produksi.
Kadin Indonesia Institute juga menyoroti persoalan pembiayaan yang memperlebar kesenjangan antara perusahaan besar dan UMKM. Pertumbuhan kredit korporasi tercatat mencapai 22,11%, sedangkan kredit UMKM hanya tumbuh 2,8%.
Selain persoalan biaya modal, ketidakpastian kebijakan dan program pemerintah menjadi tantangan bisnis yang paling banyak disoroti responden, dengan proporsi 17,8%.
Faktor tersebut bahkan menggeser birokrasi dari posisi teratas dalam daftar hambatan usaha. Porsi responden yang menyoroti birokrasi tercatat turun menjadi 9,8%.
Pelemahan minat investasi dunia usaha berlangsung di tengah capaian investasi nasional yang masih positif.
Realisasi investasi pada kuartal II/2026 mencapai Rp511,78 triliun, tumbuh 7,1% secara tahunan. Program hilirisasi menyumbang hampir 30% dari total realisasi tersebut.
Pertumbuhan kredit investasi perbankan juga tercatat mencapai 25,11% secara tahunan pada Agustus 2026.
Namun, Fakhrul mengingatkan bahwa angka-angka agregat tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang dihadapi pengusaha di berbagai skala bisnis. Tingginya realisasi investasi dapat ditopang proyek-proyek besar, sementara pelaku usaha yang lebih kecil justru membatasi rencana pengembangan usahanya.
Survei Kadin Indonesia Institute ini dilakukan pada 14–30 September 2026 dengan melibatkan 330 responden anggota Kadin dari berbagai sektor usaha di 28 provinsi. Survei tersebut memotret persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis di tengah berbagai risiko ekonomi dan ancaman iklim ekstrem.
















