ASPEK.ID, JAKARTA – Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Hutapea mengatakan tekanan arus modal asing keluar atau capital outflow dari pasar keuangan domestik mulai meluas. Tidak hanya terjadi di pasar saham, aksi pelepasan aset oleh investor asing juga merambah Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kondisi tersebut terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Erwin Hutapea mengatakan bank sentral telah mengamati perubahan aliran modal asing sejak pengumuman MSCI pada 16 Oktober 2026.
“Outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi SBN juga outflow, SRBI juga outflow,” ujar Erwin dalam taklimat media di Gedung BI, Jakarta, seperti diberitakan Sabtu (24/10/2026).
Menurut Erwin, tekanan yang meluas ke sejumlah instrumen keuangan tersebut menjadi perhatian BI dalam menjaga stabilitas pasar dan kecukupan likuiditas rupiah di dalam negeri.
Bank sentral merespons perkembangan tersebut melalui sejumlah kebijakan moneter untuk memastikan likuiditas tetap tersedia dan aktivitas transaksi di pasar keuangan dapat berlangsung dengan baik.
Salah satu dampak yang terlihat adalah kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah, khususnya SBN bertenor 10 tahun.
Berdasarkan data Investing.com yang dikutip dalam laporan tersebut, yield SBN tenor 10 tahun meningkat dari 7,16% pada Senin (19/10/2026) menjadi 7,44% pada perdagangan Kamis (22/10/2026).
Dengan demikian, imbal hasil obligasi pemerintah tersebut mengalami kenaikan sekitar 28 basis poin dalam periode tersebut.
Kenaikan yield mencerminkan penyesuaian harga obligasi di pasar sekunder, mengingat harga obligasi dan tingkat imbal hasil bergerak berlawanan arah.
Pergerakan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap prospek pasar keuangan Indonesia setelah pengumuman konsultasi MSCI.
Untuk merespons kondisi itu, BI berupaya mempertahankan daya tarik instrumen investasi rupiah, termasuk melalui penyesuaian imbal hasil SRBI.
“Jadi kami menjaga daya tarik yield, lewat SRBI, dan kemudian kawan-kawan juga mengamati bahwa sudah terjadi koreksi terkait dengan pergerakan yield di SBN. Tadinya [tenor] 10 tahun itu di bawah 7%, sekarang kan sudah di atas 7%,” jelas Erwin.















