ASPEK.ID, CIREBON – Di jantung kota Cirebon, berdiri sebuah masjid yang bukan sekadar tempat ibadah, melainkan penanda sejarah panjang peradaban Islam di pesisir utara Jawa. Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang telah berusia lebih dari lima abad, masih mempertahankan tradisi yang nyaris tak ditemukan di tempat lain.
Setiap Jumat, azan tidak hanya dikumandangkan oleh satu suara. Tujuh muazin berdiri bersamaan, melantunkan panggilan salat dalam harmoni yang menggema ke seluruh penjuru kawasan keraton. Tradisi ini menjadi identitas khas masjid sekaligus pengalaman spiritual yang berbeda bagi setiap jemaah.
Masjid yang berada di kompleks Keraton Kasepuhan ini didirikan pada 1480 Masehi oleh Sunan Gunung Jati, atau Syekh Syarif Hidayatullah. Sejak awal, masjid ini menjadi pusat penyebaran syiar Islam di wilayah barat Pulau Jawa.
Patih Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Gumilar Soeryadiningrat menegaskan peran historis masjid tersebut.
“Masjid ini didirikan Sunan Gunung Jati pada 1480 Masehi dan menjadi pusat penyebaran syiar Islam di wilayah barat Pulau Jawa,” ujar Pangeran Raja Gumilar Soeryadiningrat kepada wartawan, Sabtu (21/2).
Menurutnya, keberadaan masjid ini menjadi bukti perkembangan peradaban Islam yang menjangkau wilayah Jawa Barat, Jakarta, hingga Banten.
Akulturasi dalam Arsitektur
Tak hanya kaya tradisi, bangunan masjid juga menyimpan jejak akulturasi budaya. Desainnya disebut dirancang oleh Sunan Kalijaga dengan bentuk menyerupai pendopo khas Jawa.
Arsitekturnya memadukan unsur Majapahit, Tiongkok, hingga Portugis. Perpaduan itu terlihat dari detail ruang salat, ornamen, hingga tiang-tiang penyangga yang kokoh berdiri sejak ratusan tahun lalu.
“Perpaduan ini menjadi simbol akulturasi budaya dan pluralisme yang telah tumbuh sejak ratusan tahun lalu,” katanya lagi.
Nama “Sang Cipta Rasa” sendiri mengandung makna filosofis. “Sang” dimaknai sebagai keagungan, “Cipta” berarti dibangun, dan “Rasa” bermakna digunakan—sebuah refleksi bahwa masjid ini bukan hanya didirikan, tetapi dihidupkan oleh spiritualitas masyarakatnya.
Sembilan Pintu dan Filosofi Kerendahan Hati
Masjid ini memiliki sembilan pintu yang melambangkan Wali Songo. Ukurannya tidak lazim: lebar sekitar 40 sentimeter dan tinggi 160 sentimeter. Setiap orang yang masuk harus sedikit menundukkan kepala.
Simbolismenya jelas—penghormatan kepada Sang Pencipta dan penegasan bahwa semua manusia setara di hadapan-Nya.
Meski telah berdiri lebih dari 500 tahun, sebagian besar struktur bangunan masih mempertahankan keaslian. Perawatan rutin dilakukan untuk menjaga warisan sejarah tersebut tetap lestari.
Menghidupkan Malam Ramadan
Memasuki bulan suci, aktivitas keagamaan di masjid ini meningkat tajam. Jemaah memadati ruang utama untuk tarawih dan ibadah malam. Ada pula tradisi khusus: beduk ditabuh pada pukul 23.00 WIB sebagai penanda menghidupkan malam Ramadan.
Kini, Masjid Agung Sang Cipta Rasa tak hanya berfungsi sebagai pusat spiritual. Kehadirannya juga menggerakkan ekonomi warga di sekitar Keraton Kasepuhan, menjadi simpul antara sejarah, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Cirebon hari ini.
Lebih dari lima abad berlalu, azan tujuh muazin itu masih menggema—menjaga denyut tradisi di tengah perubahan zaman. []
























