ASPEK.ID, JAKARTA – Direktur Gempabumi dan Tsunami di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, resmi mengajukan pengunduran diri dari jabatan strukturalnya sekaligus mengajukan pensiun dini.
Keputusan tersebut disampaikan melalui pernyataan tertulis pada Sabtu (14/2). Ia juga meminta agar media tidak lagi mencantumkan jabatan strukturalnya dalam pemberitaan mendatang.
“Melalui pesan ini, saya ingin menyampaikan bahwa saya telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami, sekaligus mengajukan pensiun dini dari BMKG,” ujar Daryono dalam keterangannya, Sabtu (14/2).
Langkah tersebut diambil bukan tanpa alasan. Daryono mengungkapkan bahwa kondisi kesehatannya menjadi pertimbangan utama. Ia saat ini tengah menjalani perawatan intensif akibat gangguan penglihatan.
“Saya saat ini sedang sakit mata yang disebut distrofi kornea dan sedang dalam perawatan dan penanganan sehingga cuti dinas, kemudian lanjut pensiun dini. Saya sampai 1 Mei masih pegawai BMKG,” ungkapnya.
Meski tidak lagi menjabat secara birokratis, Daryono memastikan kiprahnya dalam edukasi kebencanaan tetap berjalan. Selama ini, ia dikenal sebagai salah satu figur yang aktif memberikan penjelasan ilmiah terkait gempa bumi dan tsunami kepada publik.
Sebagai pakar yang lama mendalami kajian sumber gempa, analisis data kegempaan, hingga sejarah tsunami di Indonesia, ia menegaskan komitmennya untuk tetap berbagi pengetahuan.
“Namun demikian, komitmen saya terhadap edukasi publik di bidang kegempaan dan kebencanaan tidak akan berhenti. Sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung dalam kajian gempa bumi dan tsunami-baik dalam aspek konsep dan teori kegempaan, sumber gempa, analisis data, maupun sejarah gempa dan tsunami-saya tetap terbuka untuk berbagi pengetahuan, memberikan penjelasan ilmiah, serta menjadi narasumber apabila diperlukan,” tegas Daryono.
Ia menilai pengabdian seorang ilmuwan tidak semata melekat pada jabatan struktural. Terlebih, Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, sehingga peran edukasi publik tetap menjadi kebutuhan mendesak.
“Saya memiliki tanggungjawab keilmuan (Scientific Responsibility), tanggungjawab edukasi (Educational Responsibility) dan tanggungjawab moral (Moral Responsibility) di negeri yang rawan bencana ini,” imbuhnya.
Ke depan, Daryono menyatakan akan tetap menjaga integritas ilmiah dalam setiap kontribusinya, sembari membuka kemungkinan afiliasi baru dengan institusi yang kredibel.
“Insya Allah, hingga nantinya saya memiliki afiliasi institusi yang baru dan kredibel, saya akan tetap konsisten berkontribusi sebagai ahli dan edukator publik di bidang kebencanaan, dengan tetap menjunjung tinggi objektivitas ilmiah, integritas, dan kepentingan keselamatan masyarakat.”
Menutup pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi kepada media yang selama ini menjadi mitra dalam penyebaran informasi kebencanaan. Ia juga membagikan sisi personalnya sebagai seorang seismolog.
“Bagian favorit saya sebagai seorang seismolog adalah menjadi orang yang selalu ditanya teman dan keluarga tentang gempa bumi. Itu benar-benar yang terbaik! Demikian yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas kerja sama, kepercayaan, dan sinergi yang selama ini telah terjalin dengan sangat baik,” pungkasnya. []























