ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah mulai mengkaji ulang pengiriman pasukan TNI ke misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) setelah gugurnya tiga prajurit di Lebanon.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan evaluasi sedang berjalan, termasuk melalui jalur diplomasi yang dilakukan Kementerian Luar Negeri dan perwakilan Indonesia di PBB.
“Iya pasti, makanya apa yang disampaikan Pak Menlu itu juga bagian dari proses evaluasi. Apa yang kita minta yang disampaikan perwakilan kita di PBB juga itu bagian dari dari evaluasi gitu,” ucap Pras, Kamis (9/4).
Meski begitu, pemerintah belum memutuskan apakah akan menarik pasukan dari Lebanon. Prasetyo menegaskan keputusan akan diambil setelah hasil investigasi resmi dari PBB keluar.
“Kita belum terima laporan,” katanya.
Sebelumnya, wacana penarikan pasukan mencuat usai tiga prajurit TNI gugur dalam dua insiden berbeda di wilayah misi UNIFIL. Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Selain korban tewas, sejumlah prajurit lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Dalam penjelasannya di Markas Besar PBB, New York, juru bicara Sekjen PBB Stéphane Dujarric mengungkap detail serangan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian.
“Terkait insiden 29 Maret, berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi dampak dan khususnya fragmen proyektil yang ditemukan di posisi Perserikatan Bangsa-Bangsa 7-1, proyektil tersebut adalah peluru utama tank kaliber 120 mm, yang ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, menuju Ett Taibe,” kata Dujarric.
Insiden ini kini masih dalam penyelidikan lebih lanjut oleh PBB. Pemerintah Indonesia menyatakan akan menunggu hasil investigasi tersebut sebelum menentukan langkah berikutnya terkait keberlanjutan misi TNI di UNIFIL. []























