ASPEK.ID, JAKARTA – Kementerian Kesehatan menyoroti tingginya beban pembiayaan yang harus ditanggung BPJS Kesehatan dalam menjamin layanan medis masyarakat. Dengan dana sekitar Rp 200 triliun per tahun, pembiayaan tersebut harus mencakup seluruh jenis penyakit, termasuk penyakit katastropik yang menyedot anggaran besar.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa tekanan pembiayaan terus meningkat seiring melonjaknya kasus penyakit kronis.
“Uang Rp 200 triliun itu harus bayar semua penyakit. Kalau cuci darah naik terus, serangan jantung naik, enggak cukup. Akhirnya pemerintah darurat nombok,” ujarnya saat peresmian layanan kardiovaskular di RSUD Kota Tangerang, Sabtu (14/2).
Data Kemenkes menunjukkan kenaikan signifikan biaya pengobatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019, pembiayaan pasien cuci darah tercatat sekitar Rp 2,3 triliun. Namun pada 2025, angkanya melonjak hingga lebih dari Rp 13 triliun. Sementara biaya penanganan penyakit jantung kini telah melampaui Rp 17 triliun.
Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol. Kondisi ini kerap berujung pada komplikasi serius, mulai dari stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal yang memerlukan terapi cuci darah rutin.
Menurut Benjamin, sistem layanan kesehatan selama ini masih bertumpu pada pendekatan kuratif—mengobati setelah penyakit muncul. Ke depan, pemerintah akan memperkuat strategi preventif guna menekan pembiayaan jangka panjang.
Upaya tersebut antara lain melalui penyediaan layanan pemeriksaan kesehatan gratis di ruang publik, termasuk posko kesehatan Merah Putih di pasar tradisional. Masyarakat didorong melakukan pemeriksaan gula darah dan tekanan darah secara berkala agar potensi penyakit dapat terdeteksi lebih dini.
Pemerintah berharap pendekatan deteksi dini dan pengendalian faktor risiko dapat menekan angka kejadian stroke, gagal ginjal, serta serangan jantung. Dengan demikian, beban pembiayaan kesehatan nasional di masa mendatang dapat lebih terkendali dan berkelanjutan. []























