ASPEK.ID, JAKARTA – Kemenangan 1-0 atas Bali United FC di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu (15/2) malam, bukan hanya penting bagi Persija Jakarta dalam perburuan poin pekan ke-21 BRI Super League 2025/26. Laga itu juga menjadi momen pembuka perjalanan Mauro Zijlstra bersama Macan Kemayoran.
Striker muda yang baru diresmikan pada 5 Februari tersebut akhirnya menjalani debutnya setelah sempat tidak dimainkan saat Persija tumbang 0-2 dari Arema FC pada 8 Februari 2026.
Masuk pada menit ke-74 menggantikan Gustavo Almeida, penyerang Timnas Indonesia U-23 itu memang hanya merumput sekitar 16 menit. Namun, waktu yang singkat tak mengurangi makna laga pertamanya.
“Senang bisa melakukan debut saya untuk klub yang indah ini dan mengamankan tiga poin,” ungkap Mauro Zijlstra, Rabu (18/2).
Bagi Zijlstra, laga kontra Bali United menjadi pintu awal untuk memahami ritme sepak bola Indonesia yang menurutnya memiliki karakter berbeda dibanding kompetisi yang sebelumnya ia jalani di Belanda.
“Kesempatan yang bagus bisa menjalani debut dengan Persija. Di sini lebih banyak berlari selama pertandingan,” jelas striker Timnas Indonesia tersebut.
Pengalaman bermain di kompetisi sekelas Eredivisie membuat perbandingan itu terasa nyata. Intensitas dan mobilitas pemain di Liga Indonesia, menurutnya, menuntut adaptasi fisik dan tempo permainan yang berbeda.
Di sisi lain, tim pelatih melihat debut tersebut sebagai proses yang masih berjalan. Asisten pelatih Persija, Ricky Nelson, menilai Zijlstra belum menunjukkan performa terbaiknya.
“Mauro baru menjalani laga pertamanya. Dia belum maksimal dan itu pasti bagi debutan. Dia baru beradaptasi,” ujar Ricky Nelson setelah kemenangan Persija di Gianyar.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Zijlstra masih membutuhkan waktu untuk menyatu dengan pola permainan tim asuhan Mauricio Souza. Adaptasi tak hanya soal fisik, tetapi juga pemahaman taktik dan chemistry dengan rekan setim.
Meski belum tampil istimewa, langkah awal Zijlstra bersama Persija setidaknya dimulai dengan hasil positif. Dalam kompetisi yang semakin ketat memasuki fase akhir musim, setiap tambahan energi baru di lini depan bisa menjadi faktor pembeda.
Debut telah dilalui. Kini, tantangan berikutnya adalah menjadikan menit-menit singkat itu sebagai pijakan untuk peran yang lebih besar. []
























