ASPEK.ID, JAKARTA – Santripreneur adalah para santri yang dididik menjadi entrepreneur, agar mereka memiliki ide, mampu melihat kesempatan di dalam kegiatan ekonomi, mampu memitigasi risiko, serta memahami cara meningkatkan sisi investasinya.
“Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki peran pembentukan karakter, pesantren mempersiapkan santrinya menjadi penggerak ekonomI,” sebut Menteri Keuangan Sri Mulyani pada Launching dan Webinar “Pengembangan Potensi Santripreneur Berbasis Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) Sawit (Kamis, 1/10/2020),
Sri menjelaskan, di dalam kondisi pandemi ini, pemerintah terus menggelontorkan berbagai bantuan, utamanya untuk usaha mikro, kecil, dan menengah. Ini merupakan bantuan yang juga bisa diakses oleh para santripreneur.
Menkeu mengapresiasi kerja sama yang dilakukan antara Universitas Indonesia, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Pemda, serta pesantren dalam rangka mengembangkan potensi santripreneur berbasis Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) Sawit sebagai bentuk dari Pemberdayaan Ekonomi Daerah.
“Industri perkebunan kelapa sawit menjadi unggulan dalam ekspor Indonesia. Kelapa sawit mampu menyumbangkan 14% dari total penerimaan devisa ekspor non migas atau senilai USD21,4 miliar,” tambahnya.
Disebutkan saat ini terdapat 4,2 juta petani yang terlibat langsung dalam industri kelapa sawit dan 12 juta petani yang bekerja tidak langsung di dalam keseluruhan sektor aktivitas industri sawit. Ini menunjukkan kelapa sawit memegang peranan penting di dalam perekonomian maupun sosial masyarakat kita.
“Program santripreneur berbasis UKMK Sawit sangat penting. Saya berharap hadirnya santripreneur dapat meningkatkan nilai tambah dari kelapa sawit yang merupakan produk penting di Indonesia,” pungkasnya.






















