ASPEK.ID, BATAM – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY mengakselerasi agenda hilirisasi nasional sebagai strategi meningkatkan nilai tambah dan memperkuat struktur ekonomi domestik. Langkah ini dinilai relevan dengan derasnya arus investasi ke Batam yang pada 2025 telah menembus Rp69,3 triliun—melampaui target yang ditetapkan.
Dalam kunjungannya ke Batam, Kepulauan Riau, AHY menegaskan bahwa hilirisasi menjadi prasyarat transformasi ekonomi, khususnya agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah.
“Hilirisasi juga menjadi bagian penting, tidak mungkin kita hanya mengekspor sumber daya alam kita, kita harus punya nilai tambah,” kata AHY di Batam, Kepri, dikutip Selasa (17/2).
Investasi Lampaui Target
Realisasi investasi Batam pada 2025 mencapai Rp69,3 triliun atau 115,5 persen dari target Rp60 triliun. Capaian ini mencerminkan kepercayaan investor yang terus menguat terhadap kawasan industri dan perdagangan tersebut.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyebut angka tersebut melampaui proyeksi awal pemerintah daerah.
“Kita mengestimasi pertumbuhan ekonomi kita, (target) investasi kita di angka Rp 60 triliun, tapi realisasinya Rp 69,3 triliun, 115,5 persen pencapaiannya,” ujarnya.
Tren investasi ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi Batam hingga 9,5–10 persen pada 2029, seiring ekspansi industri manufaktur dan sektor berbasis teknologi.
SDM dan Teknologi Jadi Kunci
AHY juga menyoroti pesatnya perkembangan industri di Batam yang dinilai semakin terintegrasi dengan teknologi mutakhir. Ia menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia, terutama generasi muda, agar mampu menjawab kebutuhan industri modern.
“Yang paling penting lagi adalah dengan industri yang semakin maju, digunakan pula teknologi terkini, tapi juga menyerap pekerjaan, menyerap tenaga kerja kita,” ungkap AHY, didampingi Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara.
Menurutnya, penguatan keterampilan tenaga kerja usia produktif menjadi keharusan agar transformasi industri tidak menciptakan kesenjangan.
“Banyak masyarakat yang usianya muda dan produktif yang sekali lagi perlu kita siapkan skill-nya,” tegasnya.
FTZ dan Pertumbuhan Berkeadilan
Keunggulan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas (free trade zone/FTZ) disebut AHY sebagai faktor strategis dalam menarik investasi. Insentif fiskal dan kemudahan logistik menjadikan wilayah ini kompetitif di tingkat regional.
Namun, AHY mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan pemerataan manfaat.
“Pertumbuhan ekonomi yang sudah baik harus terus kita kawal dan kita tingkatkan. Tetapi ingat, pada akhirnya tidak ada pertumbuhan ekonomi yang lebih penting selain pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Artinya, semua harus merasakan kesejahteraan,” tuturnya.
Dengan kombinasi hilirisasi, arus investasi, serta penguatan SDM, Batam diproyeksikan menjadi salah satu episentrum pertumbuhan industri nasional dalam lima tahun ke depan. []
























