ASPEK.ID, JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencatat bahwa pesawat keluar landasan menjadi jenis kejadian paling dominan dalam kecelakaan dan kejadian serius penerbangan yang diinvestigasi sepanjang 2025.
Pelaksana tugas Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Henry Poerborianto, menyampaikan subkomite telah melakukan 19 investigasi pada 2025, terdiri atas sembilan kecelakaan dan 10 kejadian serius.
“Dari 19 investigasi tersebut, kejadian yang paling banyak adalah pesawat keluar landasan atau runway excursion,” ujar Henry dilansir dari Antara, Kamis (29/1).
Henry menjelaskan, runway excursion terjadi ketika pesawat tidak mampu berhenti secara aman di landasan atau keluar dari batas landasan saat lepas landas maupun mendarat.
Berdasarkan klasifikasi KNKT, dari 19 investigasi pada 2025, pesawat keluar landasan tercatat tujuh peristiwa, disusul kegagalan sistem/komponen mesin sebanyak tiga peristiwa dan kontak tidak normal dengan landasan (abnormal runway contact) tiga peristiwa.
KNKT juga mencatat dua peristiwa terkait turbulensi, dua peristiwa pesawat dalam kendali pilot namun menabrak permukaan bumi (controlled flight into terrain/CFIT), serta masing-masing satu peristiwa terkait bahan bakar dan layanan navigasi/manajemen lalu lintas udara.
Dalam kurun 2021–2025, Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT telah menginvestigasi 105 peristiwa penerbangan yang mencakup kecelakaan dan kejadian serius. Jumlah investigasi penerbangan pada 2025 menurun dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total korban jiwa sebanyak 12 orang.
KNKT juga mencatat tiga peristiwa menonjol pada 2025, yakni kecelakaan helikopter Airbus H145 di Kalimantan Tengah, helikopter AS350B3 di Papua Tengah, serta kegagalan mesin pesawat GA 8 Airvan yang melakukan pendaratan darurat di Karawang.
Sepanjang 2025, Subkomite Penerbangan menyelesaikan enam laporan akhir investigasi serta menyiapkan tiga konsep laporan akhir yang masih dalam tahap konsultasi dengan pemangku kepentingan terkait.
Dari laporan yang diselesaikan, KNKT mengidentifikasi sejumlah isu keselamatan, antara lain pemanfaatan data penerbangan untuk pemantauan kinerja pilot dan pesawat yang belum optimal, serta kelemahan implementasi prosedur operasional seperti landing checklist dan pendekatan pendaratan tidak stabil.
“Sebagian operator sudah memiliki prosedur, tetapi pelaksanaannya belum selalu konsisten di lapangan,” ujar Henry.
Selain itu, pengelolaan kelelahan awak pesawat juga menjadi isu keselamatan yang perlu penguatan dari sisi panduan teknis dan pengawasan implementasi.
Berdasarkan capaian 2025, KNKT menerbitkan 16 rekomendasi keselamatan yang sebagian besar ditujukan kepada operator pesawat dan otoritas terkait.
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menegaskan rekomendasi keselamatan dikeluarkan untuk mencegah kecelakaan serupa terulang kembali.
“Rekomendasi keselamatan kami dorong agar ditindaklanjuti secara nyata oleh operator dan otoritas, sehingga risiko kecelakaan dapat terus ditekan,” tutur Soerjanto. []
























