ASPEK.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan strategis dengan jajaran menteri luar negeri, wakil menteri luar negeri, serta para mantan pejabat diplomasi di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2). Agenda utama pertemuan ini difokuskan pada dinamika geopolitik global, termasuk perkembangan terbaru isu Palestina.
Sejumlah tokoh diplomasi senior tampak hadir dalam pertemuan tersebut. Di antaranya Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nassir, Menteri Luar Negeri periode 1999–2001 Alwi Shihab, Menteri Luar Negeri periode 2009–2014 Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri periode 2014–2024 Retno Marsudi, serta Wakil Menteri Luar Negeri 2014 Dino Patti Djalal.
Wamenlu Arrmanatha Nassir menjelaskan bahwa pertemuan ini menjadi ruang diskusi antara Presiden dengan para diplomat aktif dan mantan pejabat luar negeri untuk membahas situasi global terkini.
“Bapak presiden hari ini menerima para menlu, wakil menlu juga mantan menlu, wakil menlu serta para think tank untuk berdiskusi terkait situasi geopolitik dan lain sebagainya,” ungkap Wamenlu Arrmanatha Nassir di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2).
Senada dengan itu, eks Wamenlu Dino Patti Djalal menyebutkan bahwa undangan resmi yang diterimanya menegaskan fokus pembahasan pada arah politik luar negeri Indonesia, termasuk posisi Indonesia dalam isu Palestina.
“Dalam suratnya disampaikan mengenai politik luar negeri, arah politik luar negeri, termasuk Palestina,” tuturnya.
Sementara itu, eks Menlu Alwi Shihab menambahkan bahwa salah satu isu penting yang turut dibahas adalah keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza. Menurutnya, Presiden akan memberikan penjelasan mengenai latar belakang dan pertimbangan keanggotaan Indonesia dalam forum tersebut.
Selain mendengar penjelasan Presiden, para tokoh diplomasi yang hadir juga dijadwalkan menyampaikan pandangan serta masukan terkait langkah strategis Indonesia ke depan.
“Justru itu Board of Peace itu, apakah penting Indonesia ikut, apakah tidak penting, itu yang akan dibahas. Ya ada keuntungan kita bergabung, tetapi ada yang harus diperhatikan. Kita sudah masuk masa kita bilang keluar, kan enggak mungkin,” katanya.
Pertemuan ini menandai upaya Presiden Prabowo memperkuat landasan kebijakan luar negeri Indonesia dengan melibatkan pengalaman dan perspektif para diplomat senior, khususnya dalam menyikapi isu Palestina yang terus menjadi perhatian dunia internasional. []
























