ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti masih tingginya margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) industri perbankan nasional. Ia menilai persoalan tersebut bukan isu baru dan telah berlangsung dalam jangka panjang.
“Ini kan masalah pada perbankan kita sudah mungkin 30 tahun, 40 tahun seperti ini. Di mana net interest margin kita besar, tertinggi di dunia dan akhirat,” ujar Purbaya, Jumat (13/2).
Pernyataan itu muncul di tengah kondisi ketika Bank Indonesia telah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan BI Rate. Namun, bunga kredit di tingkat perbankan dinilai belum turun signifikan. Kondisi ini memunculkan jarak antara kebijakan moneter dan implementasinya di sektor riil.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan rata-rata NIM industri perbankan sebesar 4,56 persen pada Desember 2025, sedikit turun dari 4,62 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, sejumlah bank besar masih membukukan NIM di kisaran 5 hingga 6 persen.
Secara perbandingan, NIM perbankan Indonesia tergolong tinggi. Di negara maju seperti Amerika Serikat, rata-rata NIM berada pada rentang 2 hingga 3 persen, sementara di Australia sekitar 2 persen.
Purbaya menilai struktur industri perbankan nasional yang cenderung oligopolistik turut memengaruhi lambatnya penyesuaian suku bunga kredit.
“Kalau saya lihat sebagai ekonom ya, struktur perbankan kita cenderung oligopolis. Ya harusnya bank sentral yang mengatur itu. Saya enggak tahu bagaimana caranya. Tetapi harusnya ada cara untuk menurunkan seperti itu,” sebutnya.
Meski demikian, ia melihat mulai ada perbaikan arah ekonomi seiring pelonggaran kebijakan moneter. Menurutnya, transmisi kebijakan dari bank sentral ke sektor riil memang tidak terjadi secara instan.
“Yang jelas begini, kebijakan moneter ke sektor riil, ke perbankan itu ada delay. Saya enggak tahu bisa berapa lama delay-nya. Tetapi kalau ke ekonomi, saya lihat walaupun perbankan yang mengatur bunga, empat bulan itu sudah terlihat perbaikan arah ekonominya gara-gara bank sentral menurunkan bunga,” ujarnya.
Sebagai bendahara negara, Purbaya memastikan pemerintah menjaga likuiditas sistem keuangan agar ruang penurunan suku bunga tetap terbuka. Ia mengungkapkan, meski sempat terjadi penarikan dana segar sekitar Rp70 triliun dari perbankan, dana tersebut kembali mengalir ke sistem melalui belanja dan program pembangunan pemerintah.
“Kita pastikan likuiditas cukup di pasar. Jadi harusnya ruang ke arah bunga yang lebih rendah akan terbuka lagi,” tandas Purbaya. []
























