ASPEK.ID, FLORES TIMUR – Gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dampaknya, ratusan rumah warga mengalami kerusakan dan ribuan orang terpaksa mengungsi.
Data sementara dari BPBD Flores Timur mencatat sebanyak 215 rumah dan delapan fasilitas umum terdampak gempa yang terjadi Rabu (8/4) malam. Selain itu, sekitar 1.100 warga mengungsi.
“Sementara yang terdata itu sekitar (rumah yang rusak) 215 kepala keluarga kemudian jiwanya 1.100,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nebo, Jumat (10/4)
Sejumlah desa di Pulau Adonara terdampak gempa, yakni Desa Terong, Lamahala Jaya, Motonwutun, Dawataah, dan Karing Lamalouk. Dari seluruh wilayah itu, Desa Terong menjadi lokasi dengan kerusakan paling parah.
Di Desa Terong tercatat 134 rumah rusak dengan 670 warga terdampak. Selain itu, terdapat 10 orang mengalami luka ringan serta dua fasilitas umum, yaitu Mushola Al-Hikmah dan SD Negeri Terong ikut rusak.
Sementara itu, di Desa Lamahala, sebanyak 70 rumah rusak dan 430 warga terdampak. Empat fasilitas umum juga mengalami kerusakan, yakni satu mushola, satu masjid, SMA Muhammdiyah, serta Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wewerang.
Kerusakan juga terjadi di desa lain, seperti Motonwutun dengan empat rumah dan dua fasilitas umum rusak. Kemudian di Dawataah terdapat enam rumah rusak dan satu rumah di Desa Karing.
BPBD saat ini masih melakukan penanganan darurat dengan menyalurkan bantuan seperti tenda, kasur, selimut, beras, dan logistik lainnya. Namun, keterbatasan tenda menjadi kendala di lapangan.
“Satu tenda pengungsi dan 12 tenda kecil-kecil atau family tenda karena kondisi tenda kami juga terbatas karena banyak yang rusak patah saat digunakan di huntara,” ujarnya.
Para pengungsi sebagian besar tinggal secara mandiri di rumah kerabat maupun warga lain yang tidak terdampak. Namun, banyak juga yang memilih bertahan di luar rumah atau di lapangan karena trauma dan gempa susulan yang masih terjadi.
“Jadi sementara mereka mengungsi mandiri ada yang di rumah warga yang rumahnya tidak terkena tidak terdampak tapi ada banyak juga yang memang tinggalnya di luar begitu karena guncangan gempanya masih susulan kecil-kecil masih terjadi sampai sekarang,” ucapnya.
BPBD juga mencatat ada 10 warga mengalami luka ringan, namun seluruhnya sudah mendapatkan penanganan medis. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Proses pendataan dan distribusi bantuan disebut terkendala jumlah personel serta akses yang harus menyeberangi laut.
Sementara itu, BMKG menyebut gempa terjadi pada Rabu (8/4) pukul 23.17 WIB. Episenter gempa berada di koordinat 8,36 LS dan 123,15 BT atau sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman 5 kilometer.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan gempa bumi dangkal akibat adanya aktifitas sesar aktif,” kata Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama.
BMKG mencatat aktivitas gempa susulan terus terjadi. Hingga Kamis (9/4) dini hari, tercatat puluhan gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 3,8. []























