ASPEK.ID, JAKARTA – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penangguhan sementara keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian.
Ketua Dewan Penasihat ICMI Jimly Asshiddiqie mengatakan langkah tersebut relevan untuk dipertimbangkan di tengah memanasnya situasi geopolitik setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
“Misalnya terkait Board of Peace, kita bisa menyatakan penangguhan kewajiban keanggotaan untuk sementara,” kata Jimly di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3).
Menurutnya, selama ini hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat berada dalam fase yang positif. Ia menyebut setidaknya ada dua faktor yang membuat Washington memberi perhatian besar kepada Jakarta.
Pertama, peran Indonesia dalam Board of Peace yang mendorong upaya kemerdekaan serta rekonstruksi di Gaza, Palestina. Kedua, adanya kesepakatan terbaru terkait pengaturan tarif perdagangan antara kedua negara.
Namun demikian, perkembangan konflik terbaru di kawasan Timur Tengah membuat sebagian pihak menilai Board of Peace tidak lagi sepenuhnya dipandang sebagai wadah netral untuk mendorong perdamaian.
Karena itu, Jimly menilai Indonesia dapat mengambil langkah menangguhkan kewajiban keanggotaannya hingga situasi geopolitik lebih stabil.
Ia menyebut penangguhan itu bisa berlaku sampai dua kondisi terpenuhi, yakni meredanya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, serta adanya kepastian terkait pengakuan kemerdekaan Palestina oleh Israel.
“Kalau situasi sudah jelas dan ada kepastian, kita bisa aktif kembali,” ujarnya.
Jimly menegaskan bahwa usulan tersebut bukan berarti Indonesia harus keluar secara permanen dari Board of Peace. Langkah itu lebih sebagai penyesuaian sementara terhadap dinamika geopolitik yang sedang berkembang.
Di sisi lain, ia menilai Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia—terutama di luar kawasan Arab—untuk mendorong dialog dan meredakan potensi ketegangan di antara negara-negara Islam.
Menurutnya, Indonesia juga dapat berperan menjembatani berbagai perbedaan di dunia Islam, mulai dari negara Arab hingga negara non-Arab seperti Turki, Pakistan, dan Iran.
“Indonesia punya peluang untuk membantu meredakan potensi konflik dan memperkuat rekonsiliasi di antara negara-negara Islam,” kata Jimly. []
























