ASPEK.ID, JAKARTA – Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, merespons berkembangnya wacana dukungan dua periode untuk Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa partainya belum mengambil keputusan final dan masih melakukan pertimbangan internal.
“Nah itu nanti kita sedang pikirkan, kan kita ada di sana,” ujar Surya Paloh di NasDem Tower, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (21/2).
Pernyataan tersebut menandakan bahwa NasDem membuka ruang diskusi terkait kemungkinan dukungan politik jangka panjang terhadap pemerintahan Prabowo, namun belum berada pada tahap keputusan resmi.
Selain isu dua periode, Surya Paloh juga menanggapi usulan pembentukan koalisi permanen di pemerintahan. Menurutnya, gagasan tersebut tidak menjadi persoalan selama masih dalam tahap kajian.
“Koalisi permanen boleh aja dipertimbangkan. Nggak ada masalah, tetapi belum kita putuskan kan. Dipertimbangkan bagus. Sekali lagi, esensi yang paling utama gol besar kita apa? Jawabannya sederhana, kemajuan kita dalam berbangsa dan bernegara. Siapa saja? Semua kita,” ujar Paloh.
Ia menekankan bahwa orientasi utama dalam berpolitik seharusnya adalah kemajuan bangsa, bukan sekadar kepentingan kelompok atau sekat-sekat identitas.
Dalam kesempatan tersebut, Paloh juga menyoroti pentingnya mengesampingkan politik pengkotakan yang berbasis perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial.
“Ketika kita bicara semua kita, maka pengkotakan yang terjadi karena baik itu perbedaan suku, agama, ya, latar belakang status sosial dan sebagainya, itu harusnya kita nomor duakan. Kalau kita tidak bisa hilangkan sama sekali. Yang paling ideal itu jangan lagi berpikir ke arah sana. Nah, nalar berpikir seperti ini,” tambahnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan sikap NasDem yang ingin menempatkan stabilitas dan persatuan nasional sebagai fondasi utama dalam dinamika koalisi politik ke depan.
Hingga saat ini, NasDem belum mengumumkan keputusan resmi terkait dukungan dua periode bagi Presiden Prabowo maupun format koalisi permanen yang diwacanakan. Namun sinyal politik yang disampaikan Paloh menunjukkan bahwa komunikasi dan kalkulasi politik masih terus berjalan. []
























