ASPEK.ID, JAKARTA – Kenyamanan layanan di dalam gerbong kereta api menjadi perhatian Komisi V DPR RI. Hal ini mengemuka saat kunjungan kerja spesifik ke Stasiun Cirebon, Kota Cirebon, Jawa Barat, yang dipimpin Wakil Ketua Komisi V DPR Roberth Rouw bersama anggota lintas fraksi.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi V meninjau langsung sarana dan prasarana perkeretaapian di Stasiun Cirebon yang dikenal sebagai salah satu jalur strategis penghubung antarkota di Pulau Jawa, baik untuk angkutan penumpang maupun logistik.
Komisi V menilai tingginya frekuensi perjalanan menunjukkan kereta api masih menjadi moda transportasi utama masyarakat. Namun, di tengah operasional yang padat, pengelolaan perkeretaapian nasional dinilai belum sepenuhnya mandiri secara pembiayaan karena masih bergantung pada subsidi negara.
Dalam pertemuan bersama Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI), Komisi V menegaskan bahwa pengelolaan layanan kereta api ke depan tidak cukup hanya mengandalkan ketepatan waktu. Peningkatan kualitas layanan di dalam gerbong juga dinilai penting, terutama untuk perjalanan jarak jauh.
“Kenyamanan penumpang harus jadi perhatian serius. Perjalanan jauh itu bukan hanya soal sampai tepat waktu, tapi juga soal rasa nyaman selama di dalam kereta,” kata Robert Rouw membacakan resume rapat dilansir dalam catatan kunjungan kerja Komisi V, seperti ditulis Sabtu (7/2).
Sejumlah aspek sederhana ikut menjadi sorotan, mulai dari suhu pendingin udara (AC) yang dinilai terlalu dingin pada perjalanan malam hingga pencahayaan lampu yang terlalu terang bagi sebagian penumpang. Menurut Komisi V, pengaturan AC dan lampu seharusnya lebih adaptif dengan kondisi waktu dan kebutuhan penumpang.
Selain itu, Komisi V juga mendorong penambahan fasilitas pendukung di dalam kereta, seperti ruang ibadah yang layak serta area membaca, guna menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih ramah dan manusiawi.
Komisi V DPR menilai, penyesuaian fasilitas yang relatif sederhana justru dapat memberikan dampak signifikan terhadap tingkat kepuasan masyarakat. Dengan layanan yang semakin nyaman dan inovatif, diharapkan minat masyarakat menggunakan kereta api terus meningkat.
Peningkatan jumlah penumpang tersebut dinilai dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi ketergantungan terhadap subsidi negara secara bertahap, tanpa mengorbankan kualitas pelayanan publik.
Hasil kunjungan kerja ini diharapkan segera ditindaklanjuti oleh operator perkeretaapian, agar layanan kereta api nasional tidak hanya andal secara operasional, tetapi juga semakin nyaman bagi para penumpang. []
























