ASPEK.ID, JAKARTA – Salah satu maskapai raksasa asal Inggris, Flybe, dilaporkan memberhentikan sebanyak 2.000 karyawannya sebagai langkah penyelamatan karena terdampak virus Corona atau Covid-19.
Flybe adalah maskapai terbesar kedua yang bangkrut selama enam bulan terakhir ini setelah Thomas Cook dan Monarch yang juga bangkrut pada September 2019 lalu.
Chief Executive Flybe, Mark Anderson dalam keterangannya sebagaimana dilansir The Guardian mengatakan bahwa, United Kingdom (UK) kehilangan satu aset penting karena Flybe selama ini menjadi tulang punggung dari industri penerbangan selama 4 dekade terakhir.
“Perusahaan telah berusaha untuk menghindari keruntuhan tetapi tidak mampu. Ekonomi Inggris sangat tergantung pada jaringan maskapai penerbangan dan bandara regional yang layak dan didukung,” kata Anderson, Senin (9/3).
Sebelumnya Flybe sudah mengalami permasalahan dalam kenaikan harga bahan bakar. Flybe telah berjuang untuk menyeimbangkan pembukuan keuangannya dan sudah melaporkan kerugian sekitar 20 juta euro.
Flybe merupakan sebuah maskapai penerbangan Inggris yang berbasis di Bandar Udara Exeter, Inggris. Maskapai ini merupakan maskapai regional independen terbesar di Eropa yang beroperasi di 99 rute menuju 40 bandar udara.
Basis utamanya adalah Bandar Udara Internasional Exeter, tetapi yang terbesar adalah Bandar Udara Internasional Southampton. Basis yang lebih jauh juga terletak di Kepulauan Channel dan Pulau Man.
Perusahaan ini memiliki Lisensi Beroperasi Tipe A dari Otoritas Penerbangan Sipil Britania Raya yang mengizinkan pengangkutan penumpang, kargo dan surat pada pesawat dengan 20 kursi atau lebih.














