• Latest
  • Trending

Dua Komponen Membangun Industri Mobil Listrik

Kader PSI Minta Jokowi jadi Ketum PSI

Kader PSI Minta Jokowi jadi Ketum PSI

Kejagung Dikabarkan Geledah Kantor BGN, Aktivitas Perkantoran Lumpuh

BGN Kembalikan Rp 160 M ke Kas Negara

BNPB Hormati OTT KPK, Dorong Asas Praduga Tak Bersalah

TNI Hormati KPK Usut Keterlibatan 2 Prajuritnya dalam Kasus BNPB

Gibran Apresiasi Karya Mahasiswa Rompi Anti Tantrum

Survei Capres, Gibran Masuk Empat Besar

Parlemen Malaysia Tegur Prabowo Pakai Bahasa Jawa Kasar

Parlemen Malaysia Tegur Prabowo Pakai Bahasa Jawa Kasar

Lawan Corona, ADB Hibah Indonesia USD 3 Juta

ADB Yakin RI Bisa Keluar dari Middle Income Trap

China Laporkan Kasus Pertama Flu Burung H10N3 pada Manusia

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri Habiskan R150 T

Hari ini Lalin Bundaran HI  Dialihkan ke Patung Kuda

Jakarta Raih Investasi Nasional Terbanyak Rp249,3 Triliun

Ada Ancaman Keamanan, Wapres Gibran Mendadak Batal ke Yahukimo Papua

Relawan Tolak Usulan Pemakzulan Wapres Gibran, Kirim Surat Audensi ke DPR

1.191 Situs Pialang Berjangka Ilegal Diblokir

RI 1: Indonesia Tak Gentar Hadapi Tekanan MSCI

Alasan Prabowo Pertahankan Kabinet Gemuk

Alasan Prabowo Pertahankan Kabinet Gemuk

Prabowo: Prestasi 2 Tahun Pemerintah Perlu Kita Banggakan Tidak Boleh Sombong

Prabowo: Ikuti Garis Politik Jokowi

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Kamis, Oktober 22, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Dua Komponen Membangun Industri Mobil Listrik

by Aspek
September 21, 2019
in TEKNOLOGI

Oleh: Dr. Ir. Hammam Riza, M.Sc.

[Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)]

ASPEK.ID, JAKARTA – Saat ini, kita benar-benar dapat menyaksikan berbagai contoh yang telah memberikan ‘gangguan’ terhadap pola perkembangan produk inovasi yang sudah ada sebelumnya. Salah satunya yang hangat-hangatnya menjadi perhatian khalayak ramai Indonesia adalah Kendaraan Bermotor Listrik (KBL).

BacaJuga

Istana: Kita Semua Kerja Keras Padamkan Karhutla

36 Juta Kerjaan Digantikan AI, Ini 10 Profesi Paling Terdampak

Tips Ganti Nomor HP Tanpa Hilang Chat di WA

Menkomdigi Ingatkan Air dan Energi, Proyek Data Center BDx Disetop

Danantara Bidik Investasi di Sektor Data Center

Indonesia Nomor 1 Militer Terkuat di Asia Tenggara

Selama beberapa tahun terakhir, dunia otomotif Indonesia sudah menantikan terbitnya regulasi penting terkait kendaraan listrik, yang kemudian keluar dalam bentuk Peraturan Presiden no.55 tahun 2019 mengenai Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

Perpres ini menjadi semacam oase atau pemecah kebuntuan terhadap implementasi kendaraan bermotor listrik di Indonesia yang membuat banyak pemerhati otomotif menunggu selama sekian lama.

Bagi Indonesia yang saat ini terus merintis berbagai upaya untuk meningkatkan porsi kemandirian dan daya saing industri dalam negeri, kesempatan datangnya era disrupsi di bidang otomotif ini memberikan peluang untuk dapat berperan lebih besar dalam perekonomian kawasan maupun global.

Terlebih bagi para penggiat teknologi dan industri otomotif tanah air, KBL memerlukan jumlah komponen yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kendaraan konvensional biasa sehingga menjanjikan perawatan yang lebih sederhana juga, memberikan asa kepada impian yang terus dipendam selama beberapa dekade.

Tiba saatnya Indonesia akan memiliki kendaraan nasional yang tidak saja bermerek nasional tetapi juga lahir dari inovasi anak bangsa. Apalagi belakangan ini, beberapa negara yang sebelumnya tidak diperhitungkan sebagai produsen otomotif global juga telah mampu melahirkan kendaraan dengan merek yang mengglobal, seperti Tiongkok. Bahkan Vietnam beberapa bulan lalu telah ‘berani’ memunculkan produk bermerek lokal.

Namun demikian, sejatinya tantangan sesungguhnya terhadap impian tersebut masih sangat banyak. Perjuangan untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai langkah menjadikan inovasi teknologi menjadi penghela perekonomian bangsa masih harus dilalui melalui pendakian jalan yang cukup terjal.

Meskipun Perpres No.55 Tahun 2019 telah memberikan banyak dukungan seperti insentif fiskal dan non-fiskal, kemudian kebijakan TKDN yang memberikan kesempatan bagi industri dalam negeri untuk berperan lebih banyak, namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan.

Tantangan yang harus dihadapi misalnya apakah regulasi kita memang sudah lengkap memberikan iklim yang benar-benar kondusif bagi lahirnya industri bermerek nasional. Kemudian bagaimana mentransformasikan berbagai inisiatif pengembangan KBL yang telah dilakukan oleh kalangan akademisi maupun lembaga penelitian dan pengembangan menjadi industri KBL yang merupakan dunia kompetisi global yang sangat ketat dan berada di bawah bayang-bayang industri otomotif global yang terkadang menjadi ajang persaingan ekonomi antar negara.

Yang tidak kalah pentingnya adalah membangun minat dan keberanian investor dalam negeri Indonesia untuk mulai terjun membangun basis industri otomotif di era KBL sehingga mampu menciptakan ekosistem yang lebih kondusif bagi terbangunnya industri KBL dalam negeri Indonesia.

Kita tahu bahwa yang membedakan antara KBL dengan kendaraan konvensional (ICE: Internal Combustion Engine) pada dasarnya adalah baterai dan motor listrik, di mana baterai sering kali menempati porsi biaya sebesar 60% dari harga pokok produksi.

Dengan demikian, penguasaan kedua komponen teknologi ini akan sangat menentukan seberapa mampu kita memiliki kemandirian dan daya saing. Potensi bahan baku berupa nikel yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu dasar keyakinan kita untuk dapat lebih berkiprah di KBL ini.

Potensi ini harus dapat dimanfaatkan menjadi kekuatan kita, dengan membangun industri bahan baku dan industri baterai yang diyakini akan jadi tulang punggung bagi industri KBL Indonesia.

Karenanya, tampaknya yang harus kita siapkan dengan baik untuk menyongsong era KBL di Indonesia adalah tidak cukup menerbitkan regulasi saja, tetapi juga perlu membangun ekosistem industri otomotif dengan target mendukung lahirnya mata rantai industri komponen utama, dengan muara yang jelas yaitu Produk KBL bermerek nasional dengan komponen utama dari dalam negeri.

Komentar
Share13Tweet8SendShareShare2Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Pabrik BYD di Subang Serap 20 Ribu Tenaga Kerja Lokal

Ketua Periklindo Curhat di DPR: Mobil & Motor Listrik Dilarang Naik Kapal Laut

  ASPEK.ID, JAKARTA - Distribusi kendaraan listrik melalui jalur laut masih menghadapi persoalan. Industri kendaraan listrik menyoroti adanya kekhawatiran terhadap...

Erick Thohir: Indonesia Siap Jadi Pemain Utama Mobil Listrik

UGM: Warga Sulit Pindah ke Mobil Listrik

Program subsidi mobil listrik berupa insentif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen yang diberikan pemerintah dinilai Kantor Staf Presiden berjalan lambat....

Indonesia Terima Usulan Mobil Listrik Tesla

Tesla Terus Potong Harga Jual Mobil Listrik

Tesla memotong harga jual mobil dengan kisaran potongan sebesar dua persen sampai dengan enam persen. Sejumlah analis menyebut pemberian diskon...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In