ASPEK.ID, JAKARTA – Proyek pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela memasuki babak penting. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) resmi diterbitkan, membuka jalan bagi dimulainya tahap konstruksi awal atau groundbreaking dalam waktu dekat.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan dokumen AMDAL telah diterima dan menjadi tonggak penting percepatan proyek strategis nasional tersebut. Blok Masela sendiri dioperatori oleh INPEX Corporation.
“Alhamdulilah akhirnya kemarin di hari baik Jumat Barokah telah terbit AMDAL buat Proyek Masela, sebagai hadiah menjelang Ramadhan, Insya Allah Groundbreaking dalam waktu dekat,” kata Djoko, Sabtu (14/2).
Terbitnya AMDAL menandai selesainya salah satu prasyarat utama sebelum proyek memasuki fase pengembangan fisik. Pemerintah berharap proses konstruksi dapat segera dimulai untuk mengejar target produksi dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Lapangan Abadi di Blok Masela dikenal sebagai salah satu lapangan gas laut dalam terbesar di Indonesia. Lokasinya sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura, dengan kedalaman laut mencapai 400–800 meter.
Cadangan gasnya diperkirakan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF). Dengan skema kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) yang diteken pada 1998 dan diperpanjang hingga 2055, proyek ini diproyeksikan menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) serta 150 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) untuk pipa domestik. Produksi kondensatnya diperkirakan mencapai 35.000 barel per hari.
Dari sisi ekonomi, proyek ini bukan hanya soal produksi energi, tetapi juga investasi jangka panjang bernilai besar yang berpotensi menciptakan efek berganda terhadap industri pendukung dan penyerapan tenaga kerja.
Sebagai proyek greenfield dengan karakter laut dalam (deepwater), pengembangan Masela memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Skema pengembangan mencakup pengeboran laut dalam, instalasi subsea, fasilitas FPSO (Floating Production Storage and Offloading), hingga pembangunan kilang LNG darat (onshore LNG plant).
Proyek ini diperkirakan mampu menyerap hingga 10.000 tenaga kerja pada masa konstruksi, sekaligus mendorong partisipasi industri nasional dalam rantai pasok migas.
Dengan terbitnya AMDAL, proyek Masela kini memasuki fase krusial. Tantangan teknis dan pembiayaan tetap besar, namun langkah administratif yang rampung menjadi sinyal bahwa proyek gas raksasa ini akhirnya bergerak menuju realisasi setelah penantian panjang. []























