ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa proses menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) bukan perkara sederhana. Ia menyebut dinamika politik internal organisasi bisa berubah bahkan hingga detik-detik terakhir sebelum pemungutan suara.
Hal tersebut disampaikan Bahlil saat memberikan sambutan dalam Sidang Dewan Pleno Hipmi 2026. Di hadapan para kader dan pengurus, ia mengingatkan bahwa kesepakatan politik yang terlihat solid belum tentu benar-benar final.
“Jangan bilang sudah deal, sudah selesai. Belum masuk coblos saja, suara bisa berubah, apalagi masih lama-lama. Masih bisa digoreng barang itu,” kata Bahlil Lahadalia dalam keterangannya yang dikutip, Rabu (18/2).
Pernyataan itu menegaskan realitas kontestasi di tubuh organisasi pengusaha muda tersebut. Menurutnya, dinamika, komunikasi, hingga manuver internal merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pemilihan ketua umum.
Sebagai mantan Ketua Umum Hipmi, Bahlil memahami betul proses konsolidasi dan lobi yang terjadi menjelang pemilihan. Ia mengisyaratkan bahwa dalam politik organisasi, komitmen dukungan bisa saja berubah seiring perkembangan situasi.
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga sempat melontarkan candaan kepada salah seorang perempuan yang hadir dalam forum tersebut.
“Ada yang unyu-unyu. Darimana kamu? Yogyakarta?” tuturnya.
Di balik suasana santai itu, Bahlil turut menyinggung pentingnya keterlibatan perempuan dalam struktur kepemimpinan. Ia mengenang masa kepemimpinannya di Hipmi yang menurutnya memberi ruang cukup besar bagi kader perempuan.
Ia menyebut, saat dirinya menjabat sebagai ketua umum, terdapat empat perempuan yang menduduki posisi ketua dalam struktur organisasi.
Komitmen terhadap kepemimpinan perempuan juga ia klaim terus ia dorong di ranah politik. Bahlil bahkan menyinggung kebijakan internal di Partai Golkar.
“Saking berpihaknya saya kepada perempuan, dalam sejarah Partai Golkar, enggak pernah wakil ketua DPR itu dari perempuan. Kali ini saya kasih perempuan,” tegasnya.
Menurut Bahlil, regenerasi kepemimpinan yang inklusif menjadi salah satu kunci keberlanjutan organisasi. Ia bahkan menyatakan kesiapannya untuk berdiri sebagai oposisi jika diperlukan demi memastikan kader perempuan mendapatkan ruang yang setara dalam kontestasi kepemimpinan Hipmi.
Sidang Dewan Pleno Hipmi 2026 sendiri menjadi forum konsolidasi penting menjelang agenda organisasi berikutnya. Selain membahas arah kepemimpinan, forum tersebut juga menjadi panggung refleksi atas dinamika internal yang kerap mengiringi proses pemilihan ketua umum.
Pesan Bahlil pun menjadi sorotan karena secara terbuka menyinggung realitas politik organisasi: tidak ada kesepakatan yang benar-benar aman sebelum suara benar-benar dicoblos. []
























