ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah mengakselerasi belanja negara pada awal 2026 dengan proyeksi mencapai Rp 809 triliun di triwulan pertama. Langkah ini diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memaksimalkan momentum musiman Ramadan dan Idulfitri.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai strategi percepatan fiskal tersebut berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026.
Belanja negara yang langsung mengalir ke rumah tangga diyakini mampu menjaga konsumsi domestik tetap solid, terutama pada periode dengan lonjakan kebutuhan masyarakat seperti Ramadan dan Idulfitri.
Namun demikian, Josua menegaskan bahwa besarnya angka belanja saja tidak cukup menjamin pertumbuhan tinggi.
“Namun, efektivitasnya sangat ditentukan oleh kecepatan realisasi, komposisi belanja, dan kemampuan pasokan menahan kenaikan harga,” ungkap Josua, Rabu (18/2).
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 berpeluang mencapai 5,5% hingga mendekati 6%, dengan catatan kebijakan berjalan optimal dan tidak terkendala di sisi distribusi maupun inflasi.
Fokus Belanja ke Daya Beli
Dari sisi desain kebijakan, pemerintah mengarahkan stimulus pada pos yang berdampak cepat terhadap konsumsi masyarakat. Di antaranya percepatan program makan bergizi gratis, pencairan tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur negara, serta berbagai paket stimulus tambahan.
Pendekatan ini dinilai relevan dengan pola konsumsi domestik yang secara historis meningkat signifikan selama Ramadan hingga Idulfitri.
Selain itu, momentum libur panjang dan kebijakan kerja fleksibel turut memperluas ruang belanja masyarakat. Dengan waktu libur yang lebih panjang dan aktivitas ekonomi yang tetap berjalan, konsumsi diperkirakan tersebar lebih merata sepanjang periode tersebut.
Sentimen Konsumen Menguat
Dari sisi psikologis pasar, indikator keyakinan konsumen pada Januari 2026 tercatat berada dalam zona optimistis dan menunjukkan peningkatan dibanding periode sebelumnya. Ekspektasi terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang juga membaik.
Kombinasi stimulus fiskal yang agresif, momentum musiman, serta sentimen positif konsumen menjadi faktor yang memperkuat peluang pertumbuhan.
“Dengan kombinasi tersebut, perkiraan pertumbuhan 5,5% hingga 6% pada kuartal I bisa tercapai bila penyaluran belanja benar-benar cepat, tepat sasaran, serta dibarengi stabilitas harga pangan dan transportasi,” pungkasnya.
Meski demikian, efektivitas kebijakan tetap menjadi faktor krusial. Tanpa realisasi yang cepat dan komposisi belanja yang tepat, dorongan fiskal berisiko hanya memberi dampak terbatas terhadap perekonomian nasional di awal tahun. []
























