ASPEK.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 menjadi US$146,3 miliar dari US$146,5 miliar pada Agustus 2026.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Deny Prakoso mengatakan posisi cadangan devisa ini relatif stabil, dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Arus masuk tersebut berlangsung di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI.
”Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” jelas Ramdan, Rabu (7/20/3026)
Ramdan mengatakan posisi tersebut masih di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa tersebut tetap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik,” tulis Ramdan.
BI juga terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah untuk memperkuat ketahanan eksternal. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
















