ASPEK.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan hilirisasi industri dan diversifikasi ekspor menjadi faktor utama dalam menjaga neraca transaksi berjalan Indonesia tetap berada pada kondisi yang sehat. Optimisme tersebut disampaikan di tengah tantangan global, mulai dari perlambatan kinerja ekspor komoditas hingga tingginya kebutuhan impor untuk mendukung investasi domestik.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Juli Budi Winantya, mengatakan kebijakan hilirisasi mulai menunjukkan dampak positif terhadap struktur ekspor nasional. Perubahan tersebut tercermin dalam komposisi ekspor pada neraca perdagangan Desember 2025.
“Ekspor tidak lagi hanya berbasis sumber daya alam mentah, tetapi juga mencakup produk industri, termasuk logam dan produk kimia. Komoditas-komoditas tersebut masih menjadi penopang surplus neraca perdagangan,” kata Juli, Senin (9/2).
Menurutnya, pergeseran struktur ekspor ini memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Neraca transaksi berjalan menjadi indikator penting dalam mencerminkan kemampuan ekonomi nasional menghadapi dinamika dan gejolak global.
Neraca transaksi berjalan mencakup sejumlah komponen utama, seperti Neraca Barang, Neraca Jasa, Neraca Pendapatan Primer, dan Neraca Pendapatan Sekunder. Pergerakan setiap komponen tersebut berpengaruh langsung terhadap arus devisa serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain hilirisasi, BI juga menekankan pentingnya diversifikasi negara tujuan ekspor. Juli menilai Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada mitra dagang tradisional, tetapi mulai memperluas pasar ekspor ke berbagai negara lain.
Langkah diversifikasi dilakukan baik dari sisi tujuan ekspor maupun jenis produk yang dipasarkan, dengan fokus pada peningkatan ekspor bernilai tambah guna memperkuat fondasi ekonomi nasional.
“Ekspor tidak hanya bergantung pada mitra dagang utama, tetapi juga diperluas ke negara-negara lain di luar mitra tradisional,” ujarnya.
Di sisi lain, Juli mengakui impor masih akan menjadi tantangan ke depan. Kebutuhan impor barang modal dan bahan baku diperkirakan tetap tinggi seiring berlanjutnya aktivitas investasi di dalam negeri.
“Namun, ke depan ketergantungan impor diharapkan dapat berkurang seiring kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan produksi dalam negeri, termasuk melalui penerapan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada sejumlah sektor seperti kendaraan listrik,” kata dia.
BI menilai kombinasi penguatan struktur ekspor melalui hilirisasi dan kebijakan substitusi impor menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan eksternal perekonomian nasional.
Dengan berbagai kebijakan tersebut, Bank Indonesia memproyeksikan defisit neraca transaksi berjalan pada 2026 berada di kisaran 0,1 persen hingga 0,9 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sementara pada 2027, defisit diperkirakan melebar ke rentang 0,4 persen hingga 1,2 persen dari PDB, lebih tinggi dibandingkan realisasi defisit 2024 sebesar 0,6 persen.
Adapun untuk 2025, BI memproyeksikan transaksi berjalan berada pada kisaran 0,1 persen hingga minus 0,7 persen dari PDB.
Sejalan dengan itu, BI juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Pada 2026, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Pertumbuhan diproyeksikan meningkat pada 2027 ke rentang 5,1 persen hingga 5,9 persen.
BI menilai prospek tersebut mencerminkan upaya berkelanjutan pemerintah dan otoritas moneter dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. []
























