ASPEK.ID, JAKARTA – Pengeluaran penduduk Indonesia untuk rokok lebih besar dibandingkan beli pangan pokok seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Hal itu terungkap dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk indonesia Maret 2026 yang dirilis pada 5 Oktober 2026 sesuai hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
Bahkan, pengeluaran untuk rokok lebih tinggi dibandingkan daging, telur, susu, ikan, udah, cumi, maupun kerang. Daftar pengeluaran penduduk Indonesia BPS membagi komoditas menjadi dua kategori.
Kategori komoditas pertama adalah makanan dan kategori kedua digolongkan sebagai bukan makanan. Komoditas makanan, terdiri dari padi-padian, umbi-umbian, daing, kacang-kacangan, makanan dan minuman jadi, hingga rokok dan tembakau.
Komoditas bukan makanan, termasuk pengeluaran untuk perumahan, pakaian, asuransi, hingga keperluan pesta. Menurut data BPS terbaru, pengeluaran penduduk untuk rokok dan tembakau rata-rata Rp 94.180 per kapita sebulan.
Sementara itu, pengeluaran untuk daging Rp 40.352 per kapita, kemudian telur dan susu sebesar Rp 44.915 per kapita dalam satu bulan. Dengan begitu, selisih pengeluaran rokok dengan bahan pangan protein tersebut sekitar Rp 50.000.
Pengeluaran untuk sayur-sayuran sebesar Rp 65.257, sedangkan buah-buahan Rp 46.010. Data BPS juga mencatat bahwa pengeluaran penduduk untuk membeli makanan dan minuman jadi paling besar dibandingkan komoditas kategori makanan lainnya.
Dibandingkan keperluan rokok dan tembakau, pengeluaran untuk makanan dan minuman jadi, hampir tiga kali lipat lebih tinggi, sebesar Rp 277.302 per kapita sebulan.
Pengeluaran untuk padi-padian seperti beras juga lebih sedikit dibandingkan rokok dan tembakau maupun makan dan minuman jadi.
Orang Indonesia hanya mengeluarkan Rp 92.141 per kapita dalam sebulan untuk komoditas padi-padian. Adapun secara total, setiap penduduk Indonesia rata-rata melakukan pengeluaran sebesar Rp 1.657.281 per bulan.
















