ASPEK.ID, JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat perbaikan kinerja pada semester I-2026. Pendapatan perseroan meningkat 16 persen secara tahunan menjadi US$1,80 miliar atau sekitar Rp32,14 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan tersebut meningkat dari US$1,55 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan terbesar masih berasal dari penerbangan berjadwal yang mencapai US$1,31 miliar, tumbuh 10,9 persen. Di dalamnya, pendapatan dari penumpang naik 11,5 persen menjadi US$1,23 miliar.
Pertumbuhan lebih tinggi terjadi pada penerbangan tidak berjadwal yang meningkat 32,5 persen menjadi US$272,8 juta. Angkutan haji menjadi salah satu pendorong utama dengan pendapatan US$232,2 juta, naik 51,6 persen dibandingkan semester I-2025.
Bisnis perawatan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) juga menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan dari bisnis tersebut naik 43,8 persen menjadi US$87,4 juta.
Perbaikan pendapatan turut diikuti penyusutan kerugian. Garuda Indonesia mencatat rugi bersih US$113 juta atau sekitar Rp2,02 triliun, turun 23,2 persen dibandingkan rugi US$147,1 juta pada semester I-2025.
Dari sisi operasional, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) tercatat positif US$74 juta, naik 12,7 persen. Sementara EBITDA meningkat 5,8 persen menjadi US$431,6 juta.
Meski demikian, tekanan biaya bahan bakar masih menjadi tantangan. Beban avtur Garuda pada semester I-2026 melonjak 43,6 persen menjadi US$677,6 juta. Porsinya terhadap pendapatan meningkat menjadi sekitar 37,7 persen dari 30,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Di tengah kenaikan biaya avtur, perseroan menahan pertumbuhan biaya non-bahan bakar. Beban non-avtur tercatat sekitar US$1,07 miliar atau tumbuh 3,9 persen, sehingga porsinya terhadap pendapatan turun menjadi 59,7 persen.
Perbaikan juga terlihat dari sisi struktur keuangan. Beban keuangan turun 11,6 persen menjadi US$222,4 juta. Penurunan ini antara lain dipengaruhi pembayaran utang setelah Garuda memperoleh suntikan modal dari Danantara sebesar Rp23,67 triliun pada akhir 2025.
Total pinjaman, termasuk liabilitas sewa, obligasi, dan pinjaman bank, turun sekitar 4 persen menjadi US$3,76 miliar per 30 Juni 2026. Sementara itu, arus kas operasional tercatat positif US$253,1 juta dengan kas dan setara kas sebesar US$624,3 juta.
Hingga akhir Juni 2026, Garuda Indonesia mengoperasikan 104 pesawat. Pemulihan jumlah armada tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan kapasitas penerbangan dan pertumbuhan pendapatan perseroan.
Dengan demikian, kinerja semester I-2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan dan pengendalian sejumlah biaya mampu menekan kerugian Garuda, meskipun kenaikan harga avtur masih memberikan tekanan signifikan terhadap struktur biaya perseroan. []













