ASPEK.ID, JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA mampu menjaga ketahanan bisnis di tengah beban avtur global setelah perseroan mencatat pendapatan tumbuh 16 persen dan rugi bersih menyusut pada semester I 2026.
Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) sekaligus pengamat penerbangan Alvin Lie menyebut periode Agustus hingga November 2026 sebagai masa-masa kritis bagi maskapai.
“Tekanan datang bersamaan dari harga bahan bakar, pelemahan rupiah, dan periode low season,” kata Alvin di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menyebut avtur berkontribusi lebih dari separuh biaya maskapai, sementara 90 persen biaya penerbangan menggunakan mata uang asing sehingga menekan margin akibat kenaikan harga.
Diketahui, beban avtur Garuda pada semester I 2026 naik 43,6 persen menjadi 677,6 juta dolar AS. Pada kuartal II, kenaikannya mencapai 90 persen secara tahunan. Porsi avtur terhadap pendapatan naik menjadi sekitar 37,7 persen dari 30,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip di Jakarta, Kamis, Garuda Indonesia tercatat membukukan pendapatan 1,80 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang Januari-Juni 2026.
Angka itu naik 16,0 persen dari 1,55 miliar dolar AS pada semester I 2025. Rugi bersih perseroan menyusut 23,2 persen menjadi 113,0 juta dolar AS dari 147,1 juta dolar AS.
Kinerja itu tercatat di tengah kenaikan harga bahan bakar yang menekan industri penerbangan global sepanjang semester pertama 2026.
Meski demikian EBIT perseroan naik 12,7 persen menjadi 74,0 juta dolar AS dari 65,7 juta dolar AS. EBITDA tumbuh 5,8 persen menjadi 431,6 juta dolar AS.
Laporan keuangan perseroan menunjukkan tiga faktor yang menopang kinerja tersebut yaitu pertumbuhan pendapatan dari berbagai lini antara lain pendapatan penerbangan berjadwal naik 10,9 persen menjadi 1,31 miliar dolar AS, dengan pendapatan penumpang tumbuh 11,5 persen menjadi 1,23 miliar dolar AS.
Kemudian pendapatan penerbangan tidak berjadwal naik 32,5 persen menjadi 272,8 juta dolar AS, didorong angkutan haji sebesar 232,2 juta dolar AS atau naik 51,6 persen. Pendapatan dari bisnis perawatan pesawat (MRO) tumbuh 43,8 persen menjadi 87,4 juta dolar AS.
Kedua, pengendalian biaya di luar avtur dan penurunan beban keuangan sebesar turun 11,6 persen menjadi 222,4 juta dolar AS dari 251,6 juta dolar AS dengan beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi, dan utang usaha seluruhnya lebih rendah.
Arus kas operasional tercatat positif 253,1 juta dolar AS. Kas dan setara kas per akhir Juni 2026 sebesar 624,3 juta dolar AS.













