ASPEK.ID, BANTEN – Gunung Anak Krakatau mengalami 68 kali gempa berbagai jenis sepanjang hari Minggu, 11 Oktober 2026. Masyarakat, nelayan hingga wisatawan, dilarang beraktivitas dalam radius 1 km dari dataran baru.
Mengutip laporan Magma Indonesia yang diunggah dalam website resmi milik Kementrian ESDM, Senin (12/10/2026) pukul 08.30 WIB tertulis, Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Dari puncak kawah keluar asap putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 5-100 meter.
Masih dalam laporan yang sama, sepanjang hari Minggu, 11 Oktober 2026, mulai pukul 00.00 wib hingga 24.00 WIB, kegempaan di Gunung Anak Krakatau bersifat fluktuatif, di dominasi tremor terus menerus
Gunung berapi di perairan Selat Sunda itu mengalami 25 kali gempa hembusan dengan amplitudo 6-31 mm, dan lama gempa 21-264 detik.
Kemudian 2 kali gempa low frequency, dengan amplitudo 21-45 mm, dan lama gempa 6-14 detik 29 kali gempa hybrid atau fase banyak, dengan amplitudo 7-36 mm dan lama gempa 7-20 detik.
Selanjutnya, 7 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 11-21 mm dan lama gempa 9-17 detik. Gunung Anak Krakatau juga mengalami 1 kali gempa tektonik jauh, dengan amplitudo 15 mm lama gempa 94 detik. Disusul 4 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 1-42 mm, dominan 15 mm.
Masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi di media sosial (medsos).
Jika ingin mendapatkan kabar pasti, hubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).
















