ASPEK.ID, JAKARTA – Harga emas dunia kembali menunjukkan perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven) setelah konflik geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru. Pada perdagangan Senin (2/3), harga emas melonjak signifikan menyusul serangan besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu respons militer lanjutan dari Teheran dalam bentuk rentetan serangan rudal. Situasi ini memperbesar ketidakpastian kawasan sekaligus mengguncang sentimen pasar global.
Harga emas spot tercatat naik 1,37% atau sekitar US$ 72,30 menjadi US$ 5.349,44 per ons, dari posisi sebelumnya di kisaran US$ 5.277,14. Bahkan pada sesi yang sama, logam mulia tersebut sempat melesat hingga 2% sebelum akhirnya terkoreksi tipis.
Kenaikan juga terjadi pada kontrak berjangka emas Amerika Serikat yang melonjak 2,21% atau sekitar US$ 115,95 menjadi US$ 5.362,60 per ons, dari posisi sebelumnya US$ 5.246,65 per ons.
Reli ini memperpanjang tren kenaikan emas yang sepanjang 2025 telah menguat sekitar 64%. Lonjakan tersebut didorong oleh pembelian agresif bank sentral, arus masuk yang kuat ke exchange-traded fund (ETF), serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS.
Berbeda dengan emas, harga perak spot justru terkoreksi 0,3% atau sekitar US$ 0,28 menjadi US$ 93,54 per ons, dari sebelumnya US$ 93,82 per ons. Penurunan ini terjadi setelah perak mencatatkan kinerja positif secara bulanan pada Februari.
Sementara itu, platinum relatif stabil di level US$ 2.363,26 per ons. Adapun paladium menguat 0,86% atau sekitar US$ 15,36 menjadi US$ 1.801,50 per ons dari posisi sebelumnya US$ 1.786,14.
Gelombang serangan terbaru Israel ke Teheran pada Minggu (1/3/2026) memperdalam eskalasi konflik. Iran merespons sehari setelah kematian Khamenei memicu ketidakpastian besar di kawasan.
Analis pasar keuangan senior Capital.com, Kyle Rodda, menilai konflik kali ini memiliki karakter berbeda dibanding eskalasi sebelumnya.
“Berbeda dengan eskalasi sebelumnya, kedua pihak kini memiliki insentif kuat untuk terus meningkatkan konflik. Kondisi ini berisiko menciptakan situasi yang kacau, penuh ketidakpastian, dan volatilitas pasar yang bisa berlangsung lebih dari beberapa hari. Dinamika tersebut cukup positif bagi emas,” ujarnya dilansir dari Reuters.
Menurutnya, semakin lama ketegangan berlangsung, semakin besar pula potensi arus dana mengalir ke instrumen safe haven.
Meski emas menguat tajam, kenaikannya sempat tertahan oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat sebesar 0,27%. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor di luar AS sehingga membatasi ruang reli lebih lanjut.
Namun secara keseluruhan, kombinasi ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global masih menjadi katalis utama pergerakan logam mulia tersebut.
Di tengah risiko konflik yang berpotensi meluas, emas kembali menegaskan posisinya sebagai pelindung nilai utama saat dunia memasuki fase turbulensi baru. []























