ASPEK.ID, JAKARTA – Vice President Life Science Taman Safari Indonesia (TSI), drh. Bongot Huaso Mulia menyatakan populasi Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) di seluruh dunia kini berada di “garis merah” dengan estimasi tersisa hanya sekitar 400 ekor. Demikian kata Bongot Huaso Mulia, dalam pemaparan terkait kondisi Harimau Sumatra di Kawasan Penangkaran Taman Safari Indonesia di Cisarua, Kabupaten Bogor, Rabu (7/10/2026).
Krisis populasi ini diperberat oleh karakter biologis Harimau endemik nusantara di kawqsan konservasi tersebut yang memiliki tingkat kesuburan rendah dan sangat selektif dalam memilih pasangan, sehingga upaya penangkaran di luar habitat asli menghadapi tantangan berlapis.
“Mereka punya kesulitan dalam mereproduksi secara alami memiliki tingkat reproduksi yang lebih sulit, kemudian mereka pemilih juga antara jantan dan betinanya. Perkiraan (di seluruh dunia) ada sekitar 400 ekor, iya garis merah,” ungkapnya.
Bongot menyebutkan yingkat kesuburan (fertility) yang rendah menjadi kendala utama dalam memperbanyak individu Harimau Sumatra. Di alam liar, pergerakan mereka lebih leluasa, namun di area penangkaran, insting alami dan kriteria pemilihan pasangan kawin yang ketat membuat proses reproduksi tidak bisa dipaksakan meski jantan dan betina disatukan.
Meski dihadapkan pada kebuntuan reproduksi alami, upaya konservasi di TSI tetap membuahkan hasil. Sejak tahun 1995, lembaga ini berhasil menangkarkan sedikitnya 25 ekor anakan Harimau Sumatra. Bongot mengungkapkan juga kondisi jumlah Harimau Sumatra yang saat ini dikelola di kawasan TSI Bogor.
“Saat ini, terdapat total 22 ekor Harimau Sumatra di bawah pengelolaan TSI, dengan 16 ekor di TSI Bogor dan tambahan 4 ekor anakan yang baru lahir enam bulan lalu di TSI Prigen,” ungkap dia.
Status krisis satwa ini akhirnya memicu intervensi pendanaan dari sektor swasta, salah satunya melalui Pusat Gadai Indonesia (PGI) yang menyokong operasional riset dan reproduksi di TSI.
Dirut PGI, Andrew Susanto, mengungkapkan dirinya sebagai pencinta satwa turut mengucurkan bantuan berupa mobil operasional untuk TSI Bogor hingga dana untuk operasional pemelriharaan Harimau Sumatra tersebut.
“Harimau Sumatra itu cuma ada 400 atau 600. Saya enggak mau anak kita atau cucu kita nanti enggak bisa lihat,” tegas Andrew.
Ia juga mengajak para pengusaha lainnya untuk turut berpartisipasi dalam upaya pemeliharaan satwa liar yang di ambang kepunahan.
“Saya mengajak pengusaha lain untuk ikut bergerak menyokong konservasi satwa di Taman Safari,” serunya.













