ASPEK.ID, JAKARTA – Kebijakan hilirisasi terus menunjukkan peran strategis dalam memperkuat kualitas investasi nasional. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, sepanjang 2025 sektor hilirisasi menyumbang sekitar 30% dari total realisasi investasi Indonesia.
Staf Ahli Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Tirta Nugraha Mursitama, menyebut capaian tersebut sebagai indikator membaiknya struktur investasi nasional di bawah kepemimpinan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani.
“Realisasi investasi 2025 kontribusi dari hilirisasi sekitar 30%. Secara angka, nilainya besar dan menunjukkan adanya perbaikan kualitas investasi,” kata Tirta di Jakarta Selatan, Senin (9/2).
Pernyataan itu disampaikan Tirta usai menghadiri Forum Jakarta Globe Club yang digelar Jakarta Globe, bagian dari B-Universe. Forum tersebut dibuka oleh Executive Chairman B-Universe Enggartiasto Lukita dan dihadiri jajaran direksi, pemimpin redaksi, perwakilan pemerintah, serta para pemangku kepentingan.
Meski berkontribusi signifikan, Tirta mengakui bahwa investasi hilirisasi saat ini masih didominasi sektor berbasis sumber daya alam, terutama nikel, minyak dan gas (migas), serta batu bara. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah untuk mendorong diversifikasi investasi ke sektor lain.
Ke depan, pemerintah menyiapkan strategi pengembangan energi terbarukan, sekaligus memperkuat hilirisasi di sektor perikanan, perkebunan, dan pertanian, agar struktur investasi menjadi lebih berimbang dan berkelanjutan.
Selain hilirisasi, tahun 2026 dinilai sebagai momentum penting bagi perekonomian nasional. Sejumlah proyek strategis yang dikelola oleh lembaga pengelola investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dijadwalkan mulai memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking).
“Tahun ini menjadi tahun penting karena proyek-proyek strategis Danantara sudah mulai masuk fase groundbreaking,” ujar Tirta.
Namun demikian, Tirta menegaskan bahwa dampak investasi tidak bersifat instan. Efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional baru akan dirasakan dalam kurun dua hingga tiga tahun setelah proyek berjalan.
“Investasi itu memang harus disikapi dengan kesabaran. Yang penting fundamentalnya kuat dan implementasinya dijaga dengan baik,” katanya.
Menurut Tirta, langkah-langkah strategis tersebut menjadi fondasi penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi jangka menengah pemerintah.
“Insyaallah pada 2029, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8%,” pungkasnya. []
























