ASPEK.ID, JAKARTA – Tekanan kuat melanda pasar saham Indonesia setelah pengumuman terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float emiten domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terkoreksi tajam pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1).
Berdasarkan data RTI Business, IHSG dibuka anjlok lebih dari 6% ke level 8.393. Hingga pukul 09.15 WIB, indeks bergerak volatil dengan level terendah di 8.349 dan tertinggi di 8.578.
Merespons kondisi tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan telah berkoordinasi dengan regulator dan pemangku kepentingan pasar untuk menindaklanjuti hasil evaluasi MSCI.
Sekretaris Perusahaan PT BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan bahwa diskusi dengan MSCI terus dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
“Terkait dengan pengumuman dari MSCI pagi ini, OJK, IDX, dan KSEI akan terus melakukan diskusi dengan MSCI,” kata Kautsar di Jakarta, Rabu (28/1).
Menurut Kautsar, BEI sebelumnya telah meningkatkan keterbukaan informasi dengan mempublikasikan data free float emiten melalui situs resmi bursa. Namun demikian, BEI tetap membuka ruang pembahasan lanjutan jika MSCI menilai langkah tersebut belum memadai.
“Namun jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” tambahnya.
Sebagai catatan, MSCI baru saja merilis hasil konsultasi global terkait metodologi penilaian free float saham Indonesia. Dalam proses tersebut, sebagian investor internasional menyambut positif rencana penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI sebagai referensi tambahan.
Meski begitu, mayoritas investor global masih menyampaikan kekhawatiran atas keandalan klasifikasi pemegang saham. Mereka menilai data yang tersedia belum sepenuhnya mencerminkan struktur kepemilikan riil, sehingga menyulitkan penilaian tingkat free float secara akurat.
MSCI juga menyoroti bahwa perbaikan minor yang telah dilakukan BEI belum cukup menjawab isu mendasar terkait investability pasar saham Indonesia. Transparansi struktur kepemilikan dan potensi transaksi terkoordinasi menjadi perhatian utama pelaku pasar global.
Analis pasar modal Stocknow, Hendra Wardana, menilai kondisi tersebut berisiko memicu volatilitas yang tidak sehat.
“Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar dan meningkatkan risiko volatilitas yang tidak sehat di pasar,” tuturnya.
Atas dasar itu, MSCI menekankan pentingnya penyediaan informasi kepemilikan saham yang lebih detail, transparan, dan andal, termasuk kemungkinan pemantauan terhadap konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi. Langkah ini dipandang krusial untuk memperkuat kredibilitas pasar saham Indonesia di mata investor global. []
























