ASPEK.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (2/2/2026) dipicu oleh aksi rebalancing portofolio investor, seiring tekanan yang juga melanda pasar saham kawasan Asia.
Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut, tekanan tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah bursa utama Asia kompak melemah, antara lain Kospi Korea Selatan yang anjlok 5,26%, Nikkei Jepang turun 1,25%, dan Hang Seng Hong Kong merosot 2,23%. Koreksi harga emas turut memperkuat sentimen negatif pasar.
Menurut Friderica, koreksi tajam di pasar saham domestik terutama terjadi pada saham-saham yang sebelumnya telah mencatatkan kenaikan harga signifikan.
“Saham-saham yang fundamental bagus naik, investor melihat fundamental bagus naik hari ini,” katanya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin (2/2/2026).
Ia menegaskan, OJK bersama Bursa Efek Indonesia akan terus menjaga agar perdagangan berlangsung wajar, teratur, dan efisien. Investor diimbau tidak bereaksi berlebihan terhadap volatilitas jangka pendek.
Friderica yang akrab disapa Kiki juga menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan prospek ke depan yang positif. Karena itu, investasi jangka panjang pada saham berfundamental kuat dinilai masih relevan.
“OJK, SRO doing our job memastikan semua dilaksanakan dengan baik,” ujarnya.
IHSG Sempat Tertekan Lebih dari 6%
IHSG menutup perdagangan di zona merah dengan penurunan 4,88% atau 406,88 poin ke level 7.922,73. Sepanjang hari, indeks sempat melemah lebih dari 6% dan menyentuh level terendah 7.820,23 sebelum memangkas sebagian koreksi menjelang penutupan.
Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 753 saham melemah, 142 stagnan, dan hanya 63 saham yang menguat. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 29,12 triliun dengan volume 48,09 miliar saham dan frekuensi 2,89 juta transaksi. Kapitalisasi pasar berada di level Rp 14.240 triliun.
Mengacu pada data Refinitiv, seluruh sektor berada di zona negatif. Sektor bahan baku mencatat koreksi terdalam sebesar 11,71%, diikuti energi 9,21%, konsumer non-primer 8,64%, properti 8,61%, industri 5,5%, utilitas 5,33%, dan teknologi 5,08%. Sementara sektor konsumer primer hingga kesehatan turun di bawah 2%.
Tekanan terhadap IHSG juga datang dari kelompok emiten Prajogo Pangestu. Empat saham—Barito Pacific (BRPT), Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Asri Pacific (TPIA), dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN)—masuk dalam daftar pemberat utama, dengan total kontribusi negatif mencapai 61,38 poin indeks. []
























