Jakarta- Indonesia memiliki potensi sekitar 1 juta ton tetes tebu atau molase untuk pengembangan bioetanol. Potensi tersebut dinilai menjadi salah satu modal penting untuk memperkuat pasokan bahan baku energi terbarukan di dalam negeri.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian mengatakan produksi molase nasional saat ini mencapai sekitar 1,9 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 900.000 ton yang dimanfaatkan sehingga masih tersedia sekitar 1 juta ton yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku bioetanol.
“Total produksi molase nasional sekitar 1,9 juta ton per tahun. Yang baru keserap itu 900.000 ton, masih ada 1 juta ton lagi. Ini berpeluang dipakai,” ujar Eliza dilansir dari Antara, Minggu (26/7/2026).
Menurut Eliza, pemanfaatan molase masih menghadapi tantangan distribusi. Pasalnya, sebagian besar produksi tetes tebu berada di luar Pulau Jawa, sedangkan industri pengolahannya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi tersebut menyebabkan biaya logistik menjadi lebih tinggi.
Selain persoalan distribusi, kemampuan industri nasional dalam memproduksi fuel grade ethanol (FGE) juga masih terbatas. Etanol dengan kadar di atas 99% tersebut merupakan jenis yang dibutuhkan untuk pencampuran dengan bahan bakar minyak (BBM).
“Realitas produksi domestik itu cuma sekitar 26.000 kiloliter (KL) per tahun yang berasal dari tiga perusahaan utama di Lampung, DIY, dan Solo,” kata Eliza.
Ia menjelaskan kapasitas terpasang seluruh pabrik etanol nasional mencapai sekitar 303.000 KL per tahun. Namun, tingkat utilisasi aktualnya baru sekitar 172.000 KL. Sebagian besar produksi tersebut masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan industri non-BBM, seperti kosmetik, farmasi, dan pangan.
“Sebagian besar masih dialokasikan untuk keperluan industri non-BBM seperti kosmetik, farmasi, pangan,” ujar Eliza.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pasokan bahan baku dan infrastruktur industri bioetanol masih belum memadai untuk mendukung penerapan mandatori pencampuran etanol dalam waktu dekat.
Eliza menilai implementasi kebijakan bioetanol E5 hingga E20 secara nasional memerlukan investasi besar pada rantai pasok dan infrastruktur bioetanol dalam beberapa tahun mendatang.
“Keberhasilan implementasi E5, E10, bahkan E20 nanti ini sangat bergantung pada skenario kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tebu, serta mandatori campuran ditegakkan dengan kepastian offtaker oleh Pertamina,” kata Eliza.












