Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden dalam Forum COP26 di Glasgow salah satunya membahas target rehabilitasi hutan bakau (mangrove).
Indonesia meminta dukungan internasional untuk target rehabilitasi mangrove seluas 600 ribu hektare hingga 2024.
“Saya pikir Amerika sebagai negara yang powerfull dan Joe Biden juga memberikan respons besar. Ada beberapa funding yang bisa didapat apakah itu hibah atau loan untuk menyelamatkan ekosistem mangrove,” kata Koordinator Restorasi Pengelolaan Ekosistem Laut dan Pesisir Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau Kecil KKP Hery Daulay, Rabu (3/11/2021).
Hery menuturkan Indonesia memiliki target ambisius menanam 150 hektare lahan bakau setiap tahun. Pada 2021, target rehabilitasi mangrove mencapai 60 ribu hektare.
Kekurangan ini terjadi lantaran anggaran pemerintah pada 2020-2021 difokuskan untuk penanganan pandemi Covid-19. untuk mendukung penanaman kembali mangrove tanpa APBN, Indonesia telah menerima donor atau hibah dari sejumlah negara serta lembaga internasional, seperti Jepang dan Norwegia.
Mangrove merupakan salah satu solusi untuk menghadapi krisis iklim lantaran kemampuannya menyerap karbon. Hutan bakau disebut-sebut bisa menyimpan karbon bahkan lebih banyak ketimbang hutan di darat.
Tiga pihak, kata Hery, memiliki peran dalam melakukan rehabilitasi mangrove. Ketiganya adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), KKP, dan Badan Restorasi Gambut.
“Dari total lahan mangrove jarang, KLHK memiliki tugas merehabilitasi 8.487 hektare, KKP 18.837 hektare, dan BRGM 27.158,” ujar Hery.
















