ASPEK.ID, JAKARTA – Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan global. Pemerintah Indonesia pun mencermati potensi dampaknya terhadap kinerja ekspor nasional.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi, khususnya di sektor manufaktur. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak berantai pada harga barang hingga ke konsumen.
“Ketika misalnya harga minyak naik, bisa saja misalnya kita bisa impor ya, tetapi kan semua akan jadi naik juga ya. Ekspor kita juga pasti cost-nya menjadi naik,” ujar Budi di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (2/3).
Menurutnya, hingga saat ini aktivitas ekspor dan impor Indonesia masih berjalan normal dan belum terdampak langsung oleh konflik di Timur Tengah. Namun, jika ketegangan terus berlanjut dalam waktu lama, dampaknya dipastikan akan dirasakan secara global.
“Kalau sekarang kan memang kita belum tahu (ekspor impor)-nya, tapi kalau berkelanjutan kan ya tidak hanya Indonesia, tapi buat semua negara pasti akan kena dampaknya, itu pasti ya. Tapi ya mudah-mudahan cepat selesai dah, jadi nggak berlanjut,” terangnya.
Menghadapi potensi ketidakpastian global, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif. Strategi pertama adalah memperkuat konsumsi domestik guna menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama melalui perlindungan daya beli masyarakat.
Langkah kedua adalah mengalihkan fokus ekspor ke kawasan yang relatif tidak terdampak konflik, sehingga kinerja perdagangan luar negeri tetap terjaga.
Di sisi lain, kerja sama dagang Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah dipastikan tetap berjalan sesuai rencana. Implementasi perjanjian perdagangan dengan Uni Emirat Arab tetap berlangsung tanpa hambatan.
“Kalau UAE kan udah selesai, udah implementasi. Kalau GCC kan tetap jalan, nggak ada rencana penundaan,” jelasnya, merujuk pada proses perundingan dengan Gulf Cooperation Council.
Pemerintah berharap konflik segera mereda agar stabilitas perdagangan global tidak terganggu lebih jauh. Sebab, dalam situasi geopolitik yang memanas, dampaknya tidak hanya menyasar kawasan yang berperang, tetapi juga negara-negara mitra dagang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. []
























