ASPEK.ID, JAKARTA – Rencana penggabungan tiga anak usaha Pertamina di sektor hilir dinilai memiliki landasan bisnis yang kuat dan berpotensi memperbaiki kinerja keuangan perusahaan secara menyeluruh. Langkah ini dipandang bukan sekadar restrukturisasi organisasi, melainkan bagian dari transformasi bisnis yang dibutuhkan Pertamina Group.
Direktur Pusat Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menilai merger tersebut dapat mendorong efisiensi operasional, menekan biaya, serta meningkatkan perolehan laba perusahaan.
Pemerintah melalui Danantara saat ini tengah memfinalisasi penggabungan PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS), yang seluruhnya berada dalam rantai bisnis hilir Pertamina.
“Langkah merger ini merupakan strategi yang rasional, terukur, dan memiliki dasar kuat dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan, baik dari sisi operasional, efisiensi biaya, maupun perolehan laba,” kata Sofyano dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2).
Menurutnya, selama ini pemisahan fungsi pengolahan, pengangkutan, serta distribusi dan niaga dinilai terlalu kaku, padahal ketiga fungsi tersebut berada dalam satu rantai nilai yang saling terhubung. Kondisi ini berpotensi menimbulkan inefisiensi dan memperlambat proses pengambilan keputusan.
“Dengan integrasi ketiga entitas tersebut, koordinasi operasional dinilai akan menjadi lebih efektif. Proses pengadaan, pengiriman, pengolahan, hingga distribusi produk BBM dan turunannya dapat berada dalam satu kendali manajemen yang terintegrasi sehingga meminimalkan tumpang tindih kebijakan serta mempercepat proses logistik,” jelasnya.
Sofyano menilai integrasi tersebut juga dapat menekan biaya operasional yang selama ini muncul akibat birokrasi lintas entitas dalam satu grup usaha. Efisiensi ini diyakini berdampak langsung pada peningkatan margin keuntungan sekaligus memperkuat daya saing Pertamina di sektor energi.
Ia menambahkan, model integrasi dari hulu hingga hilir merupakan praktik yang lazim diterapkan perusahaan minyak dan gas kelas dunia. Melalui kendali terintegrasi, perusahaan dapat mengelola biaya produksi, transportasi, dan distribusi secara lebih presisi.
Selain itu, potensi efisiensi dinilai cukup signifikan mengingat masing-masing entitas selama ini memiliki struktur manajemen, sistem administrasi, dan kebijakan operasional yang berjalan sendiri-sendiri.
Meski demikian, Sofyano mengingatkan bahwa keberhasilan merger tidak hanya bergantung pada kebijakan struktural, tetapi juga ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang menjalankannya. Publik, menurut dia, akan mencermati kompetensi serta integritas manajemen yang memimpin entitas hasil penggabungan tersebut.
Secara keseluruhan, kebijakan merger ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memaksimalkan kinerja keuangan Pertamina Group melalui integrasi fungsi kilang, pelayaran, dan niaga dalam satu manajemen yang lebih efisien dan kompetitif. []























