ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk menghidupkan kembali industri padat karya nasional, khususnya sektor tekstil dan produk turunannya. Melalui skema co-invest dan/atau co-financing, pemerintah akan mengalokasikan dana sebesar USD 6 miliar guna memperkuat struktur pembiayaan dan daya saing industri tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kebijakan ini telah mendapatkan persetujuan Presiden dan disertai dengan peta jalan yang jelas.
“Pemerintah ingin melakukan perbaikan terhadap industri padat karya, dalam hal ini industri tekstil. Dan Bapak Presiden sudah menyetujui. Kita akan siapkan dana sebesar 6 billion (miliar dolar AS) dan sudah punya roadmap-nya,” kata Airlangga, Jumat (6/2).
Saat ini, nilai ekspor dari industri terkait tercatat berada di kisaran USD 4 miliar. Namun, pemerintah menilai potensi pertumbuhannya masih sangat besar dan dapat meningkat hingga sepuluh kali lipat dalam 10 tahun ke depan, seiring dengan penguatan akses pasar global.
Airlangga menilai peluang tersebut didukung oleh berbagai perjanjian perdagangan internasional yang telah ditandatangani Indonesia dengan hampir seluruh blok ekonomi utama dunia, baik di Eropa maupun Asia, termasuk China. Selain itu, pembicaraan dagang dengan Amerika Serikat juga masih terus berlangsung.
Dari sisi permintaan global, pemerintah melihat prospek industri sandang dan alas kaki tetap kuat dan berkelanjutan. Dengan jumlah penduduk dunia yang mencapai sekitar 8 miliar jiwa, kebutuhan terhadap pakaian dan sepatu dinilai tidak akan surut.
Dalam konteks ini, pemerintah juga menyoroti masih adanya persepsi di sektor jasa keuangan yang menggolongkan industri padat karya sebagai sunset industry. Pandangan tersebut dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan dinamika global.
Airlangga mencontohkan, sejumlah merek internasional seperti Nike, Adidas, dan Zara justru terus mencatatkan pertumbuhan dan ekspansi industri di berbagai negara.
Karena itu, pemerintah mendorong sektor jasa keuangan untuk tetap membuka akses pembiayaan bagi subsektor padat karya, termasuk sepatu, tekstil, garmen, dan furnitur, yang memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja.
“Nah, pemerintah akan siapkan 6 billion (miliar dolar AS) untuk co-invest atau co-financing. Nanti formulasinya kita akan bahas,” kata dia.
Secara global, Indonesia diperkirakan menempati peringkat kelima sebagai negara yang berpotensi menjadi pemain utama di industri tekstil dunia. Pemerintah berharap dukungan pembiayaan yang terstruktur dapat mempercepat transformasi industri sekaligus meningkatkan kontribusi ekspor dan penciptaan lapangan kerja. []
























