ASPEK.ID, PARIS -Kerusuhan melanda berbagai kota di Prancis setelah demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik meluas. Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi bentrokan, kebakaran, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan toko.
Ratusan ribu orang turun ke jalan di puluhan kota Prancis untuk menyuarakan berbagai tuntutan. Namun, sejumlah kelompok massa terlibat dalam aksi kekerasan dengan menyasar gedung-gedung publik, menjarah butik mewah dan supermarket, serta menyerang kendaraan dan petugas kepolisian.
Gelombang protes ini tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya biaya hidup. Kemarahan masyarakat juga dipengaruhi persoalan ketimpangan sosial, rendahnya upah, kenaikan harga sewa, hingga buruknya fasilitas pendidikan.
Melansir laporan AFP dan Reuters, aksi demonstrasi di Prancis bermula sejak bulan sebelumnya pada sejumlah sekolah menengah di wilayah pinggiran utara Paris.
Ketidakpuasan terhadap kekurangan tenaga pengajar dan buruknya fasilitas pendidikan memicu kemarahan yang kemudian berkembang menjadi gerakan protes dengan cakupan lebih luas.
Seiring meluasnya demonstrasi, tuntutan masyarakat tidak lagi terbatas pada persoalan pendidikan. Para pengunjuk rasa mulai menyoroti ketimpangan sosial, kebijakan pengeluaran publik, serta penurunan standar hidup yang mereka rasakan.
Kenaikan biaya hidup menjadi salah satu persoalan utama yang mendorong masyarakat turun ke jalan. Sebagian demonstran merasa pendapatan mereka tidak sebanding dengan pengeluaran yang terus meningkat, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar tempat tinggal.
“Kami sudah muak bekerja keras dengan upah yang sangat rendah, sementara biaya sewa terus naik,” ujar Regine Monfroid, dikutip Senin (19/10/2026).
Menurut para demonstran, tekanan ekonomi tersebut semakin terasa ketika biaya hidup meningkat, sementara upah yang diterima tidak mengalami peningkatan sepadan. Sebagian tuntutan juga berkaitan dengan kenaikan biaya hidup yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.
Selain persoalan ekonomi, protes tersebut berlangsung ketika Prancis memasuki periode menjelang pemilihan presiden pada 2027, yang akan menentukan pengganti Presiden Emmanuel Macron.
Kondisi ini membuat demonstrasi tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan keluhan ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi kritik terhadap pemerintah dan kalangan elite politik.
Persoalan layanan publik turut memperbesar ketidakpuasan masyarakat. Kekurangan guru dan kondisi belajar yang dinilai tidak memadai menjadi salah satu pemicu awal demonstrasi, khususnya di kalangan pelajar sekolah menengah.
Seorang pengunjuk rasa berusia 19 tahun di Paris, Lola, menjelaskan alasan dirinya ikut dalam aksi tersebut. Ia menyoroti tingginya biaya hidup, mahalnya bahan bakar, serta kondisi pelajar yang menghadapi kekerasan ketika menyampaikan tuntutan terkait pendidikan.
Ketimpangan ekonomi juga menjadi perhatian para demonstran. Kamil Alahyan, seorang siswa sekolah menengah berusia 18 tahun, mengatakan dirinya mengikuti aksi tersebut karena sejumlah persoalan, termasuk kondisi politik menjelang pemilu dan penumpukan kekayaan di kalangan kelompok ultra-kaya.
“Saya ikut demo karena banyak alasan, pemilu yang akan datang pada 2027, politisi yang berbohong, serta kelompok ultra-kaya yang terus menumpuk kekayaan dalam 10 tahun terakhir,” kata Kamil Alahyan dikutip dari beritasatu.
















