ASPEK.ID, JAKARTA – Produksi tambang Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika, Papua, sekitar 60% pada masa transisi dari tambang terbuka ke bawah tanah. Produksi Freeport kembali normal pada 2022 atau 2023.
“Hari ini, kami sudah transisi dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah. Produksi tambang Freeport sekarang ini tidak dalam kapasitas normal. Produksinya baru 60 persen,” ujar Direktur PT Freeport Indonesia Claus Wamafma mengutip Antara, Minggu (11/10/2020).
Dengan kapasitas produksi 60 persen, kata Claus, maka pendapatan perusahaan pun terpengaruh. Termasuk juga berdampak pada alokasi dana kemitraan yang dikucurkan kepada masyarakat lokal melalui Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).
“Kalau produksi 60 persen, otomatis dana ini akan terganggu. Bahkan, dana satu persen juga akan terganggu sampai kondisi tambang kami kembali normal. Sebab, selama masa transisi, tidak ada lagi kegiatan penambangan di atas. Semua turun ke bawah untuk menyiapkan area dan infrastruktur,” imbuh dia.
VP Government Relations Freeport Johny Lingga menuturkan saat ini produksi tambang Freeport di Tembagapura, Mimika, masih terus berjalan di tengah pandemi Covid-19.
Semua berjalan sesuai dengan target dan rencana yang ditetapkan perusahaan, tentu dengan mengedepankan protokol covid-19. Produksi tetap jalan lancar, tidak ada kendala.














