ASPEK.ID, JAKARTA – Mantan Kepala BMKG periode 2017-2025, Prof Dwikorita Karnawati mengungkap potensi megathrust di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang menjadi perhatian para ahli.
Dwikorita mengatakan sejumlah pakar gempa, termasuk dari BMKG, telah melakukan penelitian terhadap zona-zona megathrust. Hasil kajian menunjukkan masih terdapat sejumlah wilayah yang belum melepaskan energi gempa besar yang tersimpan.
“Menurut pakar gempa bumi termasuk di situ terdapat pakar-pakar dari BMKG, mereka itu punya konsorsium. Jadi, kumpulan pakar-pakar gempa itu melakukan penelitian dan akhirnya bisa mengidentifikasi, ternyata belum semua zona yang berpotensi megathrust itu sudah terlepas energinya,” ujar Prof Dwikorita Karnawati dikutip dari podcast Oase, Selasa (22/9/2026).
Dwikorita mengatakan, salah satu wilayah yang menjadi perhatian berada di Selat Sunda bagian selatan. Menurutnya, masih terdapat energi yang tersimpan di zona tersebut.
“Maka artinya masih ada energi yang tersimpan. Nah itu di mana? Yaitu terutama yang dijaga, ditunggu harusnya keluar segera dan itu ada di Selat Sunda bagian selatan,” tuturnya disalin dari beritasatu.
Selain Selat Sunda, Dwikorita menyebut potensi energi megathrust juga berada di sebelah barat Sumatera Barat, tepatnya di sekitar Pulau Siberut.
Dwikorita menegaskan keberadaan energi yang tersimpan di zona megathrust bukan berarti gempa akan segera terjadi. Ia mencontohkan patahan Palu-Koro yang pernah diperkirakan oleh Profesor Katili sejak 1970-an.
“Menunggunya sudah lebih dari 20 tahun dan enggak terjadi-jadi. Sebagai contoh di Palu. Profesor Katili pada 1970-an sudah memperhitungkan sekitar tahun 2000 patahan Palukoro ini diperkirakan akan bergerak. Namun, tahun tersebut tidak bergerak tetapi bergerak pada 2018. Jadi akurasinya tidak 100% tetapi melesetnya enggak jauh banget dan itu terhitung cepat,” ungkapnya.
Dwikorita kemudian mengingatkan bahwa waktu terjadinya gempa tidak dapat dipastikan. Menurutnya, informasi mengenai potensi megathrust disampaikan bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
“Nah, ini pun juga demikian bukan berarti besok terjadi ya tetapi wallahualam karena memang tidak bisa diprediksi, cuma kemungkinan itu akan terlepas. Dua lokasi tadi sudah 200 tahun lebih, jadi cukup pantas kalau kita khawatir. Ini diomongin bukan dalam arti untuk menakut-nakuti. Toh, apa untungnya seperti itu, enggak dapat manfaatnya juga kok untuk menakuti,” lanjutnya.













