ASPEK.ID, BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem menegaskan pentingnya penguatan tata kelola sektor minyak dan gas bumi (migas) di daerah paling barat Sumatra itu, khususnya pada aspek rantai pasok, guna menjamin keberlanjutan produksi dan peningkatan nilai tambah ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan Mualem dalam sambutannya yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir Syamaun pada acara Aceh Upstream Oil & Gas Supply Chain Management Summit 2026 yang digelar oleh Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) di AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Senin (2/2).
“Aceh memiliki sejarah dan posisi strategis sebagai salah satu daerah penghasil migas nasional. Kekhususan kewenangan pengelolaan migas yang dimiliki Aceh merupakan amanah besar yang harus dijalankan secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat,” kata Nasir.
Menurutnya, di tengah dinamika global, tantangan geopolitik, serta tuntutan efisiensi industri, keberadaan rantai pasok yang kuat, terintegrasi, dan adaptif menjadi kebutuhan mendesak.
“Oleh karena itu, penguatan tata kelola, khususnya pada aspek rantai pasok, menjadi kunci keberlanjutan produksi dan peningkatan nilai tambah ekonomi di daerah. Di tengah dinamika global, tantangan geopolitik, dan tuntutan efisiensi industri, rantai pasok yang kuat, terintegrasi, dan adaptif bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” ujarnya.
Pemerintah Aceh, lanjut Nasir, memandang forum ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem hulu migas Aceh yang sehat dan berdaya saing.
“Pemerintah Aceh memandang forum ini sebagai momentum penting untuk memperkuat sinergi dan komitmen bersama dalam membangun ekosistem hulu migas Aceh yang sehat dan berdaya saing,” kata dia.
Ia juga menegaskan dukungan penuh Pemerintah Aceh terhadap peningkatan produksi migas sebagai bagian dari kontribusi daerah terhadap target nasional ketahanan dan kemandirian energi.
“Pemerintah Aceh mendukung penuh upaya peningkatan produksi migas Aceh sebagai bagian dari kontribusi terhadap target nasional ketahanan dan kemandirian energi. Investasi hulu migas harus terus didorong karena memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan kapasitas usaha lokal,” jelasnya.
Dalam konteks pengembangan sektor migas, kata Nasir, Mualem mendorong optimalisasi peran sumber daya lokal Aceh, termasuk tenaga kerja, pelaku usaha barang dan jasa, serta institusi pendidikan.
“Dalam konteks tersebut, kami mendorong optimalisasi peran sumber daya lokal Aceh, baik tenaga kerja, pelaku usaha barang dan jasa, maupun institusi pendidikan. Pelibatan perguruan tinggi dalam forum ini merupakan langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia Aceh sebagai generasi penerus pengelolaan sektor migas,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan kondisi Aceh yang masih dalam proses pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor. Ia berharap industri migas turut mengambil peran aktif dalam membantu masyarakat terdampak.
“Kami juga mengingatkan bahwa Aceh masih berada dalam proses pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, kami berharap seluruh pemangku kepentingan industri migas yang beroperasi di Aceh turut berkontribusi nyata bagi masyarakat terdampak dan wilayah sekitar operasionalnya, sebagai bagian dari tanggung jawab bersama membangun Aceh yang lebih tangguh dan sejahtera,” pungkasnya. []
























