ASPEK.ID, JAKARTA – Langkah reformasi yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai berada di arah yang tepat untuk memulihkan kepercayaan investor dan memperbaiki kualitas pasar modal nasional.
Pengamat pasar modal David Sutyanto menilai fokus regulator dalam memperketat pengawasan, memberantas praktik manipulasi saham, serta meningkatkan porsi kepemilikan publik (free float) merupakan fondasi penting bagi pembenahan struktural pasar modal Indonesia.
David menilai persoalan utama pasar modal domestik bukan terletak pada minat investor, melainkan pada tingkat kepercayaan terhadap tata kelola dan keadilan pasar.
“Masalah utama pasar modal kita bukan minat investor, tetapi kepercayaan. Apabila tata kelola dan fairness (keadilan) membaik, kepercayaan akan pulih, dan itu menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang,” ujar David, Minggu (1/2).
Menurutnya, reformasi yang konsisten dan kredibel berpotensi menurunkan risk premium Indonesia di mata investor. Dampaknya, valuasi saham dapat membaik dan membuka peluang penguatan kembali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Apabila investor melihat reformasi dijalankan secara konsisten dan kredibel, risk premium Indonesia akan menurun dan valuasi saham berpeluang membaik. Kondisi tersebut membuka peluang bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk berbalik menguat atau rebound dan kembali ke tren positif,” kata David.
Ia menambahkan, peluang rebound IHSG akan semakin besar apabila reformasi tersebut ditopang stabilitas makroekonomi dan masuknya dana dari investor institusional domestik.
“Intinya, reformasi yang konsisten akan memperkuat kepercayaan, dan kepercayaan adalah kunci utama kebangkitan pasar modal,” jelasnya.
Meski demikian, David mengingatkan bahwa keberhasilan reformasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga kualitas kepemimpinan di OJK dan BEI. Integritas, independensi, keberanian menegakkan aturan, serta kompetensi teknis pimpinan menjadi faktor krusial dalam menjaga kredibilitas regulator.
“Leadership yang tegas dan transparan sangat menentukan kepercayaan pelaku pasar,” tuturnya.
Seperti diketahui, dalam beberapa waktu terakhir terjadi pengunduran diri sejumlah pejabat tinggi OJK secara bersamaan, termasuk Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar dan Wakil Ketua Mirza Adityaswara. Di saat yang sama, Direktur Utama BEI Iman Rachman juga mengundurkan diri dari jabatannya.
Untuk menjaga kesinambungan kelembagaan, OJK dan BEI bergerak cepat menunjuk pejabat pengganti. Melalui Rapat Dewan Komisioner OJK di Jakarta, Sabtu (31/1/2026), Friderica Widyasari Dewi ditetapkan sebagai anggota dewan komisioner pengganti ketua dan wakil ketua OJK. Hasan Fawzi ditunjuk sebagai kepala eksekutif pengawas pasar modal, sementara Jeffrey Hendrik dipercaya sebagai pejabat sementara Direktur Utama BEI.
David menyambut positif langkah cepat tersebut dan meyakini jajaran pimpinan baru mampu mengawal agenda reformasi serta menjaga stabilitas dan kepercayaan investor ke depan. []
























