ASPEK.ID, JAKARTA – Hubungan Indonesia dan China kembali memanas. Hal ini dipicu ulah kapal coast guard China yang masuk ke dalam teritorial laut Indonesia tanpa izin.
Parahnya lagi, China mengklaim bahwa berdaulat di perairan tersebut sehingga kapal-kapalnya bebas berlayar. Tak terima, Indonesia pun menyatakan apa yang dilakukan China adalah pelanggaran.
Laut Natuna adalah perairan yang terbentang dari Kepulauan Natuna hingga Kepulauan Lingga di Provinsi Kepulauan Riau. Laut ini berbatasan dengan Laut Natuna Utara di utara, barat laut, dan timur, juga berbatasan dengan Selat Karimata di tenggara dan Selat Singapura di arah barat.
Ternyata laut Natuna menyimpan beragam potensi hasil laut, mulau dari cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan.
Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan Aryo Hanggono mengungkapkan bahwa cumi-cumi menjadi komoditas laut dengan potensi hasil paling banyak. Setidaknya ada 23.499 ton potensi cumi-cumi per tahun di Natuna.
“Natuna ya, di sana ada cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan. Di datanya itu, potensi per tahunnya lobster ada 1.421 ton, kepiting, 2.318 ton, rajungan 9.711 ton,” kata Aryo sebagaimana dilansir dari laman Detikcom, Sabtu (3/1/2020).
Melihat potensi lautnya, tak heran apabila banyak kapal asing yang masuk ke Natuna untuk mengambil kekayaannya. Aryo pun mengakuinya, memang Laut Natuna sering menjadi sasaran kapal asing masuk, khususnya kapal nelayan asing.
“Cumi-cumi paling banyak nih, dia ada 23.499 ton per tahun,” ungkapnya.
Alasannya, karena wilayah Natuna strategis, selain itu nelayan lokal juga jarang yang melaut di Natuna. Puluhan ribu kapal dari Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga China disebut Aryo sering bolak-balik ke Natuna.
“Karena memang ada kedekatan geografis. Jadi Malaysia, Thailand, Vietnam, dan China maunya turun dikit dapat lah Natuna. Karena dekat dan banyak kekayaannya, puluhan ribu kapal itu. Mereka ini mau cari ikan tapi nggak mau jauh-jauh,” tambahnya.
“Selain itu, kapal ikan kita di sana nggak banyak, yang ada juga kecil-kecil,” tukas Aryo.
























