ASPEK.ID, JAKARTA – Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono, meminta masyarakat tidak mengaitkan bencana gempa bumi dengan dosa warga di suatu daerah. Narasi yang mengaitkan dosa masyarakat tidak memiliki dasar ilmiah dan tidak menunjukkan empati terhadap warga yang menjadi korban bencana. Dosen magister manajemen bencana Universitas Indonesia (UI) itu menegaskan, kebiasaan memberi label daerah yang dilanda gempa sebagai wilayah penuh maksiat merupakan pandangan keliru yang harus dihentikan.
“Ketika suatu daerah dilanda gempa, kita perlu berhati-hati mengatakan bahwa bencana itu terjadi karena masyarakatnya banyak berbuat dosa, bermaksiat, atau menyekutukan Tuhan. Pernyataan seperti itu sulit dibuktikan dan melukai mereka yang sedang menjadi korban,” jelas Daryono, Selasa (6/10/2026).
Daryono menjelaskan, dari sisi kebumian, gempa merupakan proses geologi yang terjadi akibat aktivitas tektonik. Sebuah wilayah lebih sering mengalami gempa karena berada di atas zona tektonik aktif, bukan karena tingkat kesalehan penduduknya.
“Tegangan di dalam kerak bumi terakumulasi akibat pergerakan lempeng, kemudian dilepaskan ketika batuan mengalami patahan atau pergeseran. Energi yang dilepaskan merambat sebagai gelombang seismik dan kita merasakannya sebagai gempa,” jelasnya.
Daryono menekankan, gempa tidak memilih korban berdasarkan suku, agama, status sosial, maupun tingkat keimanan. Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan gempa berada di wilayah dengan kondisi tektonik tertentu, seperti zona subduksi dan sesar aktif.
Daryono mengajak masyarakat memadukan keduanya untuk meningkatkan mitigasi bencana. Menurutnya, peristiwa alam dapat dimaknai sebagai pengingat tentang kebesaran Tuhan. Namun, ilmu pengetahuan tetap dibutuhkan untuk memetakan risiko dan mengurangi jumlah korban.
“Justru pengetahuan tentang alam dapat menjadi jalan untuk menjaga kehidupan. Jika kita mengetahui adanya sesar aktif, kita membangun rumah yang lebih tahan gempa. Jika tinggal di kawasan rawan tsunami, kita menyiapkan jalur evakuasi,” ujar Daryono.
Ia juga mengajak masyarakat mengubah sudut pandang setelah terjadi bencana. Menurutnya, perhatian seharusnya diarahkan pada hal-hal yang dapat dipelajari dan diperbaiki agar tragedi kemanusiaan tidak terus berulang, bukan mencari pihak yang dianggap pantas disalahkan.
“Bencana menumbuhkan empati, bukan penghakiman, meningkatkan kesiapsiagaan, bukan prasangka. Iman mengajarkan kepedulian, sementara ilmu membantu kita melakukan ikhtiar untuk menyelamatkan kehidupan,” tutupnya.















