JAKARTA — CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menegaskan Indonesia butuh investasi lebih dari Rp 13.000 triliun dalam lima tahun untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan mengatakan kebutuhan investasi tersebut bahkan melampaui total investasi yang berhasil ditarik Indonesia dalam gabungan 10 tahun sebelumnya.
Menurut dia, pemerintah menyatakan target pertumbuhan dan kebutuhan investasi tersebut sebagai bagian dari satu strategi pembangunan yang terpadu.
“Pada saat yang sama, Presiden Prabowo telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Untuk mencapainya, kita membutuhkan lebih dari Rp 13.000 triliun investasi dalam lima tahun, melampaui total investasi yang berhasil kita tarik dalam gabungan 10 tahun sebelumnya,” ungkap Rosan di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Rosan menuturkan kebutuhan investasi tersebut berjalan seiring dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan ketahanan energi, industrialisasi, dan hilirisasi sebagai bagian penting dalam agenda pembangunan Indonesia. Pemerintah berkomitmen mencapai emisi nol bersih atau net zero emissions pada 2060 atau lebih cepat dengan dukungan para mitra.
Di tengah perubahan perekonomian global yang berlangsung cepat, Rosan menyebut hilirisasi menjadi salah satu andalan Indonesia untuk menarik modal. Menurut dia, perubahan ekonomi global mendorong investor mencari negara yang mampu menawarkan stabilitas, ketahanan, keamanan sumber daya, serta prospek pertumbuhan jangka panjang.
Kondisi tersebut, jelas dia, membuat Indonesia perlu menggabungkan agenda keberlanjutan dengan daya saing ekonomi melalui pengembangan industri dan investasi.
“Hilirisasi tetap menjadi pilar utama dari strategi ekonomi kita,” ujar Rosan.
Rosan menyebut Indonesia memiliki posisi strategis untuk menangkap peluang investasi dalam perubahan ekonomi global karena memiliki cadangan nikel, bauksit, tembaga, serta mineral kritis strategis lainnya. Pemerintah tidak ingin kekayaan sumber daya tersebut berhenti sebagai komoditas, tetapi mengembangkannya menjadi industri bernilai tambah di dalam negeri.
Saat ini, kata Rosan, Indonesia sedang membangun ekosistem terintegrasi yang menghubungkan pertambangan, pengolahan, manufaktur, energi bersih, dan teknologi. Pengembangan ekosistem tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus lapangan kerja yang lebih baik.
“Melalui cara inilah nilai tambah dan lapangan kerja yang lebih baik diciptakan,” ujar CEO Danantara ini.
Upaya menarik investasi juga menunjukkan perkembangan positif. Rosan mencatat realisasi investasi Indonesia telah mencapai lebih dari 120 miliar dolar AS pada 2025, tumbuh 12,7 persen secara tahunan, dengan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja tercipta.
Sementara itu, pada enam bulan pertama 2026, realisasi investasi telah mencapai 61 miliar dolar AS. Angka tersebut tumbuh 7,2 persen secara tahunan dan menciptakan 1,45 juta lapangan kerja.
Industri hilirisasi menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi Indonesia dan terus tumbuh dengan dukungan investor domestik maupun internasional.
















