• Latest
  • Trending
UI:  Alasan Data Center AI Butuh Banyak Air

UI:  Alasan Data Center AI Butuh Banyak Air

PSBB Tekan IHSG ke Zona Merah

IHSG Pagi Ini Menguat ke 6.161, Transaksi Rp 1,4 T

1 Januari 2020, Harga Rokok Resmi Naik 35 Persen

Muhammadiyah Desak Rokok dan Vape Diberi Label Non Halal

Jakarta Banjir, Sejumlah Rute Bus Transjakarta Tak Beroperasi

Tarif Transjakarta, Transjabodetabek, dan LRT Jakarta Akan Naik Mulai 1 Januari 2027

Dudung Sidak Dapur MBG di Jakbar, Temukan Belatung hingga Area Kotor

Kejagung: Satu Perwira TNI Aktif Tersangka Kasus Korupsi MBG

Wagub Babel Hellyana Divonis 4 Bulan Penjara Terkait Kasus Penipuan

Presiden Prabowo Copot Wakil Gubernur Babel Buntut Kasus Ijazah Palsu

Aliansi Serikat MEPS dan Manajemen Pelindo Bahas Program Transformasi dan Penataan Peran Pelindo Grup

Aliansi Serikat MEPS dan Manajemen Pelindo Bahas Program Transformasi dan Penataan Peran Pelindo Grup

3 Nama dari PDIP Masuk Kabinet Prabowo-Gibran? Begini Jawaban Dasco

Dasco Bertemu 3 Petinggi OJK, Ini yang Dibahas

Kasus Tambang Murung Raya, Samin Tan Resmi Jadi Tersangka

Kejagung Tetapkan Kolonel Budi Utomo Jadi Tersangka Korupsi MBG

PSBB Tekan IHSG ke Zona Merah

IHSG Tertekan Sepanjang Perdagangan, Ditutup Turun 0,43%

KopDes Soft Launching pada Oktober 2026

Menteri Zulhas: Gaji Manajer Kopdes Rp6,3 Juta-Rp8,3 Juta/Bulan

Bareskrim Ungkap Lima Laboratorium Narkoba Rahasia di Indonesia 

Prabowo Minta Kampus Kembangkan Konsep Rehabilitasi Narkoba

Hitung Kerugian Negara Kasus Jiwasraya, BPK Butuh Waktu 2 Bulan

DPD RI Rekomendasikan 10 Nama Calon Anggota BPK ke DPR RI

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Rabu, September 30, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

UI:  Alasan Data Center AI Butuh Banyak Air

by Aspek
September 30, 2026
in BERITA TERBARU, TEKNOLOGI
UI:  Alasan Data Center AI Butuh Banyak Air

ilustrasi data center AI

 

ASPEK.ID, JAKARTA –  Penggunaan kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak hanya membutuhkan listrik dan daya komputasi.  Di balik jawaban yang muncul dalam hitungan detik, ada ribuan chip di data center yang bekerja menjalankan operasi komputasi dan menghasilkan panas. Karena itu, air menjadi salah satu bagian penting dalam sistem pendinginan infrastruktur AI.

 

BacaJuga

IHSG Pagi Ini Menguat ke 6.161, Transaksi Rp 1,4 T

Muhammadiyah Desak Rokok dan Vape Diberi Label Non Halal

Tarif Transjakarta, Transjabodetabek, dan LRT Jakarta Akan Naik Mulai 1 Januari 2027

Kejagung: Satu Perwira TNI Aktif Tersangka Kasus Korupsi MBG

Presiden Prabowo Copot Wakil Gubernur Babel Buntut Kasus Ijazah Palsu

Aliansi Serikat MEPS dan Manajemen Pelindo Bahas Program Transformasi dan Penataan Peran Pelindo Grup

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Agustino Zulys, menjelaskan kebutuhan air pada data center AI berkaitan dengan proses menjaga temperatur chip agar tetap aman saat bekerja.

“Data center AI butuh air bersih. Tapi bukan untuk diminum, melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan,” ujar Prof Zulys di akun TikToknya, Selasa (29/9/2026).

 

Menurut Prof Zulys, ketika pengguna memberikan perintah kepada AI, respons yang terlihat sederhana merupakan hasil pemrosesan oleh banyak chip di data center. Chip tersebut menjalankan miliaran operasi yang membutuhkan listrik sekaligus menghasilkan panas.

Ia menggunakan analogi sederhana untuk menggambarkan proses tersebut. Semakin berat komputasi yang dilakukan, semakin besar pula panas yang dihasilkan perangkat.

“AI itu seperti mahasiswa mau ujian. Makin berat mikirnya, makin panas kepalanya,” katanya.

Panas dari chip harus segera dikendalikan agar perangkat tidak mengalami kerusakan. Prof Zulys menuturkan air digunakan dalam proses tersebut karena memiliki kapasitas panas yang tinggi sehingga efektif membantu membawa panas keluar dari sistem.

Kebutuhan tersebut memiliki konsekuensi tersendiri. Air yang digunakan untuk sistem pendinginan, menurut Agustino, harus bersih dan tidak dapat sembarangan mengambil air dari sungai, danau, maupun laut karena berpotensi merusak chip.

Persoalan tersebut menjadi semakin besar ketika penggunaan AI berlangsung dalam skala masif. Prof Zulys mengutip studi dari UC Riverside dan Colorado yang memperkirakan model AI seperti GPT-3 menggunakan sekitar setengah liter air untuk menghasilkan 50 respons, atau sekitar 50 mililiter untuk satu jawaban.

Prof Zulys menyebut sebuah data center berkapasitas 100 megawatt dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air per hari. Jumlah tersebut ia analogikan setara dengan kebutuhan sekitar 6.500 rumah tangga.

 

Artinya, persoalan konsumsi air AI tidak semata-mata berada di level satu chatbot atau satu kali kueri. Beban sebenarnya muncul ketika aktivitas komputasi dikumpulkan dalam infrastruktur data center berkapasitas besar.

Menurut Prof Zulys, kebutuhan air tersebut bukan berarti penggunaan AI harus dihentikan. Solusinya justru perlu diarahkan pada bagaimana infrastruktur data center mengelola sumber daya secara lebih efisien.

 

Salah satu pendekatan yang ia usulkan adalah menggunakan sistem pendinginan dengan siklus tertutup dan air daur ulang. Lokasi pembangunan data center juga perlu mempertimbangkan daya dukung air di wilayah tersebut.

 

“Buat metode siklus pendinginan tertutup, air daur ulang, dan bangun datacenter di lokasi yang daya dukung airnya memadai. Jangan di lingkungan penduduk. Terjadi persaingan konsumsi air,” tuturnya.

 

Pengguna AI juga memiliki ruang untuk mengurangi beban tersebut. Prof Zulys menyarankan agar AI digunakan sesuai kebutuhan, termasuk menghindari kueri yang tidak diperlukan dan tidak menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI.

 

“Kalau bisa, kita kerjakan sendiri saja. Toh, kita masih bisa hidup tanpa AI, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa air,” ujarnya.

 

 

Komentar
Share10Tweet6SendShareShare2Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Alasan Investor Global Lirik RI

Indonesia Bidik Investasi AI dan Pasar UMKM di Nanning CAEXPO 2026

  ASPEK.ID,  NANING -  Indonesia memanfaatkan ajang China-ASEAN Expo (CAEXPO) 2026 di Nanning, Guangxi, China, untuk memperluas pasar ekspor sekaligus...

Alasan Investor Global Lirik RI

Jurus 3S Agar Pekerja Muda Tidak Terdisrupsi AI

    ASPEK.ID, JAKARTA -  Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan strategi upskilling, reskilling, dan cross-skilling atau strategi triple skilling (3S) untuk...

Alasan Investor Global Lirik RI

40 Persen Musik Global Terdeteksi Pakai AI

    ASPEK.ID, JAKARTA - Riset terbaru SubmitHub terhadap lebih dari satu juta lagu menunjukkan hampir 40 persen musik yang...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In