Saya tidak akan pernah lupa. 24 September 2012.
Hari itu sangat terik. Tapi kami tidak merasa panas. Di foto itu saya berjalan bersama Pak Prabowo di Gardens by the Bay, Singapura. Taman futuristik seluas 100 hektare itu baru beberapa bulan diresmikan.
Dengan deretan Supertrees raksasa dan kubah kaca terbesar di dunia, Gardens by the Bay menjadi ikon baru Singapura—simbol bagaimana sebuah negara kecil tanpa sumber daya alam mampu membangun salah satu ruang publik paling terkenal di dunia.
Saya menemani Pak Prabowo berjalan santai di tengah taman sambil memandang Marina Bay. Di sela-sela perjalanan itu, beliau berkata kepada saya,
“Yuza, saya ingin rakyat Indonesia segera punya taraf hidup yang tidak kalah dengan rakyat Singapura.”
Banyak politisi Indonesia pernah mengucapkan kalimat serupa. Namun, yang membuat saya terus mengingatnya selama empat belas tahun berikutnya adalah penjelasan setelahnya.
Beliau mengatakan bahwa untuk mencapai itu, Indonesia membutuhkan decisive leadership.
Kepemimpinan yang berani mengambil keputusan.
Terlalu banyak persoalan di Indonesia sebenarnya bukan karena negeri ini kekurangan ide, studi, atau konsep.
Yang sering kurang adalah keberanian untuk memutuskan.
Beliau kemudian mengutip sebuah prinsip kepemimpinan yang hingga hari ini masih saya ingat:
“Do not let the perfect be the enemy of the good.”
Jangan menunggu semuanya sempurna.
Yang penting diputuskan. Dikerjakan. Lalu disempurnakan sambil berjalan.
Empat belas tahun kemudian, ketika saya melihat kembali foto ini, saya menyadari bahwa ucapan beliau siang itu bukan sekadar kalimat biasa.
Ucapan itu adalah gambaran tentang cara beliau memimpin.
Lihat saja apa yang terjadi dalam dua tahun terakhir.
Berbagai gagasan yang selama puluhan tahun hanya berpindah dari meja rapat ke meja rapat akhirnya benar-benar berjalan.
Gas Abadi Masela yang menunggu hampir 30 tahun sejak 1997 akhirnya mulai dibangun pada Juli 2026.
Dana Kedaulatan Danantara yang diwacanakan sejak akhir 1980-an akhirnya terwujud pada Februari 2025.
Kilang minyak RDMP Balikpapan yang bertahun-tahun menghadapi berbagai hambatan dan sabotase akhirnya selesai pada Januari 2026.
Bullion Bank (Bank Emas) yang telah lama menjadi bahan diskusi akhirnya berdiri pada Februari 2025.
Gaji hakim yang tidak naik selama 12 tahun akhirnya dinaikkan, bahkan mencapai 280 persen pada Juni 2025.
Swasembada solar yang diperjuangkan melalui program biodiesel selama dua dekade akhirnya tercapai dengan implementasi B50 pada Juli 2026.
Program Makan Bergizi dengan cakupan nasional, yang sejak era PMT-AS menjadi cita-cita, akhirnya terlaksana mulai Januari 2025.
Kredit macet UMKM yang membelit selama puluhan tahun akhirnya diselesaikan pada hari-hari pertama Presiden menjabat, November 2024.
Hingga Juli 2026, 1.000 dari target 5.000 jembatan desa yang oleh sebagian warga telah ditunggu puluhan tahun akhirnya terbangun.
Singapura memiliki Gifted Education Programme sejak 1984. Empat puluh dua tahun kemudian, Indonesia akhirnya memiliki program serupa. Sekolah Unggul Garuda menerima angkatan pertamanya pada Juli 2026.
Berbagai kasus korupsi besar yang telah berlangsung puluhan tahun dan merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah akhirnya dibongkar dan diselesaikan, termasuk penyelundupan sumber daya alam serta pelanggaran kawasan hutan seluas jutaan hektare. Penerimaan negara dari penyitaan aset hasil korupsi belum pernah sebesar ini.
Pada saat yang sama, Indonesia juga mencatat berbagai rekor baru sepanjang hampir delapan puluh tahun kemerdekaan sebagai hasil dari kebijakan-kebijakan yang diputuskan dengan cepat dan tepat.
Nilai Tukar Petani tertinggi.
Cadangan Beras Pemerintah tertinggi.
Swasembada delapan komoditas pangan strategis tercapai.
Nilai ekspor komoditas meningkat berkat kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN PT DSI.
Presiden Republik Indonesia ke mana-mana menggunakan mobil rancangan anak bangsa.
Dan ini belum semuanya.
Ini baru permulaan.
Sebentar lagi Indonesia akan memiliki motor listrik nasional dan mobil listrik nasional.
Akhirnya.
Berbagai industri strategis yang selama ini hanya hidup dalam seminar dan kajian mulai berubah menjadi pabrik, lapangan kerja, dan produk nyata karena dibiayai serta dibangun oleh Danantara.
Akhirnya.
Akhirnya ini terbangun.
Akhirnya itu selesai.
Dan saya memperkirakan masih akan ada banyak lagi “akhirnya” di era Presiden Prabowo.
Berbagai capaian ini menjadi mungkin karena satu prinsip:
“Do not let the perfect be the enemy of the good.”
Presiden Prabowo tidak menunggu semuanya sempurna.
Yang penting diputuskan.
Dikerjakan.
Lalu disempurnakan sambil berjalan.
Kalau tidak, seperti kata Indonesianis Adam Schwartz, Indonesia akan selamanya menjadi a nation in waiting.
Sekarang,
Indonesia is no longer in waiting.
Catatan Dirgayuza, 18 Juli 2026.
Catatan atas kerja Presiden yang lebih lengkap dapat dibaca dalam buku Presiden Solusi / Problem Solver.
























