ASPEK.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melantik Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) pada Rabu (23/12/2020) lalu.
Sandi menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Wishnutama Kusubandio. Selain Sandi, ada 5 nama lainnya yang dilantik.
Kelima nama tersebut adalah Tri Rismaharini (Mensos), Budi Gunadi Sadikin (Menkes), Wahyu Trenggono (Menteri KKP), Yaqut Cholil Qoumas (Menag) dan Muhammad Lutfi (Mendag).
Pendidikan
Pria yang memiliki nama lengkap Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, BBA, MBA ini lahir di Pekanbaru, Riau, pada 28 Juni 1969. Sandi lulus dari Wichita State University AS dengan predikat summa cum laude.
Ia mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Ia lalu bertemu dan berguru dengan William Soeryadjaya, pemilik Bank Summa.
Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas George Washington, AS dan lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.
Awal Karir
Pada 1993 Sandi bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi. Ia kemudian pindah ke MP Holding Limited Group pada 1994.
Pada 1995 ia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd. dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan. Namun, krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan bangkrut dan pulang ke Indonesia.
Sandi berhasil bangkit lewat PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) hingga akhirnya dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS, pada 2007.
Pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS. Pada 2009 Sandi masuk sebagai pendatang baru dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes.
Majalah tersebut menuliskan Sandi memiliki kekayaan US$ 400 juta dan berada di peringkat 29. Pada 2018 peringkatnya turun di peringkat 85 dengan taksiran kekayaan US$ 300 juta.
Politik
Karier Sandi di dunia politik terbilang cemerlang. Darah politik Sandi mengalir melalui kakeknya, Raden Abdullah Rachman, yang pernah mendirikan partai politik di Gorontalo bernama Gerakan Kebangsaan Indonesia (Gerkindo).
Di Pilkada DKI Jakarta 2017, koalisi Gerindra dan PKS mengusung Sandi menjadi calon Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Anies Baswedan. Pasangan ini berhasil memenangkan Pilkada.
Di Pilpres 2019, Sandi lalu maju sebagai Calon Wakil Presiden nomor urut 2 berpasangan dengan Prabowo Subianto dan memilih mundur dari jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Selama berkarier di politik dia telah menghabiskan dana sekitar Rp 1 triliun. Dalam Pilkada DKI 2017, dia menghabiskan dana kurang lebih Rp 300 miliar dan Rp 600 miliar saat Pilpres 2019.
“Waktu di Pilpres habis 600, ya sekitar 600. Waktu pilgub habis 300. Total sekitar 1 T lah ya. Politik itu mahal,” kata Sandi dalam tayangan Podcast di channel Youtube Ketua MPR Bambang Soesatyo.
Saratoga Investama Sedaya
Sepulangnya dari AS pada 1997, Sandi mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Salah satu mentor bisnisnya adalah William Soeryadjaya.
Sandi kemudian bertemu dengan Edwin Soeryadjaya, putra William Soeryadjaya, pendiri PT Astra Internasional. Waktu itu Edwin juga mengalami kesulitan keuangan dan Sandi ditawarkan untuk membangun usaha berbasis investasi.
Maka, ia dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usahanya meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.
Berbekal network yang baik dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi sukses menjalankan bisnis tersebut. Mekanisme kinerja perusahaan tersebut adalah menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami masalah keuangan.
Kinerja perusahaan yang krisis itu kemudian dibenahi dan dikembangkan. Setelah sehat, aset perusahaan tersebut dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Hingga 2009, ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih oleh Saratoga. Beberapa perusahaan telah dijual kembali, antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics.
Saratoga berinvestasi di Adaro pada 2001 dan memfasilitasi Adaro untuk menjadi perusahaan batubara pit-to-port yang terintegrasi. Pada 2008, Penawaran Umum Perdana Adaro menjadi IPO terbesar di pasar modal Indonesia. Saat ini, Adaro masih menjadi salah satu perusahaan batubara terbesar di Indonesia.
Menyusul keberhasilan Adaro, Saratoga terus melihat sektor-sektor lain yang memiliki potensi pertumbuhan. Pada 2004, Saratoga dan Provident Capital mendapatkan kesempatan untuk berinvestasi di sebuah perusahaan menara telekomunikasi independen yang pada saat itu hanya memiliki 7 menara di seluruh Indonesia.
Saratoga melihat peluang tersebut dan berhasil mengembangkan perusahaan secara substansial, dan mengubah nama perusahaan menjadi Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG).
Saat ini, TBIG memiliki lebih dari 11.000 situs telekomunikasi yang melayani lebih dari 18.000 penyewa dan merupakan perusahaan menara telekomunikasi terkemuka di Indonesia berdasarkan nilai kapitalisasi pasar.
Pada Juni 2013, Saratoga memasuki pasar modal Indonesia dengan mencatatkan diri di BEI, dan menjadi perusahaan investasi aktif pertama yang tercatat di Indonesia. Saham Saratoga digenggam oleh Edwin Soeryadaya (33,10 %), PT Unitras Pertama (32,7 %), Sandiaga Uno (21,51 %), lainnya (11,6 %), Michael WP. Soeryadjaya (0,015 %), Devin Wirawan (0,006 %) dan Lany Djuwita (0,001 %).
Saratoga seperti dilihat di laman perusahaan tercatat BEI, memiliki 18 anak perusahaan yakni Asia Legacy International Investment Ltd, Bravo Magnum International Ltd, Cedar Legacy International Holding Ltd, Delta Horizon International Ltd, PT Bumi Hijau Asri, PT Interra Indo Resources, PT Nugraha Eka Kencana, PT Pelayaran Antarbuwana Pertala, PT Sarana Asri dan PT Saratoga Sentra Business.
Selanjutnya PT Satria Sukses Makmur, PT Sinar Mentari Prima, PT Sukses Indonesia, PT Surya Nuansa Ceria, PT Tri Wahana Universal, PT Wahana Anugerah Sejahtera, PT Wana Bhakti Sukses Mineral dan Trimitra Karya Jaya.
Sedangkan unit usaha Saratoga diantaranya yakni Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG), PT Adaro Energy Tbk (Adaro), PT Agra Energi Indonesia, PT Medco Power Indonesia (Medco Power), PT Paiton Energy, Sumatra Copper & Gold plc, PT Tenaga Listrik Gorontalo dan banyak lainnya.
Per 30 September 2020, total aset Saratoga mencapai Rp27,3 triliun. Sedangkan, total liabilitas sebesar Rp3,5 triliun dan ekuitas Rp23,7 triliun. Namun, laba bersih perusahaan dilaporkan turun drastis pada kuartal III 2020.
Sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi, Jumat (30/10), perusahaan hanya meraup laba bersih Rp 1,19 triliun. Jumlah itu turun sebesar 83% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 dimana perusahaan mampu meraup laba bersih Rp 7 triliun.
Keuntungan bersih atas investasi baik saham maupun ekuitas lainnya mengalami penurunan, dimana keuntungan bersih investasi hanya Rp 651,6 miliar.
Jumlah tersebut turun jauh dari periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 5,8 triliun. Penghasilan dividen bunga dan investasi juga turun dari Rp 1,66 triliun menjadi Rp 658,9 miliar.
Kekayaan Sandiaga
Berdasarkan pengumuman Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) pada situs https://elhkpn.kpk.go.id milik KPK seperti dilansir dari Antara, dari keenam ‘penghuni baru’ Kabinet Indonesia Maju, Sandi tercatat sebagai menteri dengan harta terbanyak.
Berturut-turut jumlah kekayaan mereka adalah Yaqut Cholil Staquf Rp 936 juta, Tri Rismahrini Rp 7,1 miliar, M. Lutfi Rp 123,5 miliar, Budi Gunadi Sadikin Rp 161 miliar, Wahyu Trenggono Rp 1,9 triliun dan Sandiaga Uno Rp 5,09 triliun.
Sandiaga terakhir melaporkan kekayaannya ke KPK pada tanggal 14 Agustus 2018 sebagai calon penyelenggara negara atau Calon Wakil Presiden RI kala berpasangan dengan Prabowo Subianto, yang telah lebih dulu masuk kabinet menjadi Menteri Pertahanan.
Sandiaga memiliki harta berupa tanah dan bangunan senilai Rp191 miliar, alat transportasi dan mesin (dua unit mobil) Rp325 juta, harta bergerak lainnya Rp3,2 miliar, surat berharga Rp4,7 triliun, kas dan setara kas Rp495 miliar, dan harta lainnya Rp41 miliar serta memiliki utang Rp340 miliar.






















